Refleksi Filosofis:Mari Tekun Membaca Tulisan Langit

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Ingat, tulisan langit tidak pernah salah.”
(Seruan Sang Kebenaran)

Ada dua jenis tulisan di dunia ini!

Tulisan Pertama: yang ditulis oleh manusia di atas daun-daun kertas, di layar kecil HP, dan juga yang tercoret di tembok-tembok. Tapi semua jenis tulisan itu akan sangat mudah terhapus, mudah direvisi, cepat memudar, dan seketika pun akan lenyap.

Hari ini Anda menulis, “Aku cinta padamu,” tapi besok sudah terhapus. Hari ini Anda juga menulis, “Aku ini kekal.” Keesokan hari, sudah tersobek dan terbuang.

Tulisan Kedua: tulisan yang tidak dituliskan oleh lentur jemari manusia, tapi yang dituliskan di atas langit. Ketahuilah, bahwa tulisan yang kedua ini tidak dapat dihapuskan. Manusia dari mana pun dapat melihatnya.

  1. Apakah Isi Tulisan Langit itu?

Ya, ada tiga macam tulisan besar di langit!

  • Tulisan Pertama: Kebesaran yang Membuat Kita Kecil – dan itu Kabar Baik

Ya, kala mata kita menatap angkasa malam, maka terlihatlah Bima Sakti membentang, dan apa yang dapat Anda rasakan? Ya, kita ini ternyata kerdil, dan sangat kecil.

Padahal manusia modern paling takut, jika mereka merasa kecil, karena mereka selalu ingin merasa besar.

Padahal secara filosofis, merasa kecil itu adalah awal dari kebijaksanaan.
“Langit mewartakan kemuliaan Allah”
(Mazmur 19: 2)

Langit itu tidak mengisahkan kemuliaan manusia, tapi justru kemuliaan Allah.

Jika kita menjadi kecil di bawah langit, itu bukan suatu penghinaan, tapi itu adalah istirahat.

Tulisan Kedua: Tentang Keteraturan yang Membuat Kita Percaya

Bukankah matahari pasti terbit dari Timur? Musim hujan pun datang justru setelah kemarau? Serta pepadian pun akan menguning tepat pada waktunya?

Ada istilah “Pactum Caeleste” (Perjanjian Langit).

llah justru menuliskan perjanjian-Nya bukan di atas kertas bermeterai, tapi di atas gerakan bintang. “Jika matahari lupa terbit, barulah Aku lupa mencintaimu.”

Berbahagialah mereka yang tekun membaca tulisan langit, karena mereka pun akan disembuhkan dari kecemasan.

Bukankah kecemasan itu datang, karena kita membaca tulisan-tulisan di bumi yang memang tidak teratur (Tentang harga di pasar yang terus naik dan turun, tentang orang yang saling cinta, tapi lalu berakhir dengan benci).

Tulisan Ketiga: Tentang Kerinduan Pulang

Hal inilah yang paling dalam. Mengapa di kala kita bersedih, mata kita pun akan spontan memandang ke atas? Si anak kecil yang sedang menangis pun suka memandang ke atas? (Hal itu tidak ada yang mengajari manusia).

Ya, adapun tulisan langit itu adalah sepucuk surat.

Surat dari Rumah, semisal anak yang sedang dirantau di saat ia memandang ke langit, ia pun ingat, bahwa langit yang sama juga dilihat oleh Ibunya di seberang sana.

Dalam konteks ini, Santo Agustinus berkata, “Tuhan, Engkau menciptakan kami untuk-Mu, dan hati kami pun gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau.”

Seluruh kegelisahan kita di bumi ini terjadi justru, karena kita suka membaca tulisan-tulisan di bawah: soal rekening bank, soal tulisan dalam ijazah, dan soal tulisan status; padahal jiwa kita justru hanya bisa tenang kala kita membaca tulisan di Atas.

  1. Mengapa Kita Berhenti Membaca Langit?

Ya, karena kita terlalu banyak lampu. Adapun lampu-lampu yang berada di bawah: lampu layar HP, lampu mall, lampu ambisi, lampu gengsi yang semuanya membuat kita silau.

Pada akhirnya, orang yang tekun membaca tulisan langit pun akan berhenti merasa takut pada tulisan nasibnya di bumi.

Ingatlah, bahwa tulisan langit itu tidak pernah salah!

Malang, 25 Oktober 2026