Setahun Lagi

Di pojok kebun sering ada satu tanaman yang nasibnya menggantung. Sudah lama tidak berbuah, sudah beberapa kali diancam hendak ditebang, tapi selalu ada yang membelanya: sayang, coba setahun lagi.

Perumpamaan Yesus persis tentang itu. Pohon ara tiga tahun tidak berbuah. Pemilik kebun sudah memutuskan: tebanglah, untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma. Tapi pengurus kebun memohon: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya.

Kita semua adalah pohon ara itu. Berapa banyak kesempatan sudah lewat tanpa buah? Berapa kali kita mengulang dosa yang sama, menunda pertobatan yang sama? Kalau pakai hitungan wajar, kita layak ditebang sejak lama. Kita masih berdiri bukan karena kuat, melainkan karena ada yang memohonkan: setahun lagi.

Yang menghibur, pengurus kebun itu tidak hanya minta waktu. Ia berjanji mencangkul dan memupuk. Rahmat Allah bekerja begitu: memberi waktu sekaligus menggarap kita, lewat firman, sakramen, kadang lewat peristiwa pahit yang menggemburkan hati.

Perumpamaan ini jujur: ada kata, jika tidak, tebanglah. Kesabaran Allah panjang, bukan tanpa ujung. Tahun perpanjangan itu sedang berjalan sekarang.

Tuhan, terima kasih untuk kesempatan yang masih Engkau beri. Jangan biarkan tahun ini lewat tanpa buah. Amin.

(Doa Katolik – KAS – Sabtu, 24 Oktober 2026)