Refleksi Filosofis:Dari Catatan Harian Si Mulut Kotor

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Tuhan, inilah aku. Inilah kata-kata yang paling busuk. Aku tidak punya yang lebih indah. Terima kasih.”
(Seruan si Jujur Sejati)

Sang Guru Sejati pun tidak berkata-kata “Dari kepenuhan kamus, mulut berkata-kata, tapi dari kepenuhan hati.”

Hal ini dimaksudkan, bahwa ‘masalah mulut kotor itu, justru tidak pernah ada di mulut.

  1. Catatan Pertama: Mulut Kotor adalah Pekikan dari Hati yang Sesak

Camkan, bahwa orang yang bermulut bersih pun belum tentu hatinya pun bersih pula. Tapi, orang yang mulutnya kotor itu hampir pasti hatinya sedang berdarah-darah.

Mengapa demikian? Ya, mari kita bedah secara filosofis!

a. Kata kotor adalah bahasa darurat

Yakinlah, bahwa kala seseorang tidak memiliki kata yang indah, bermutu, serta suci untuk mengungkapkan rasa: sakit, marah, kecewa, jengkel, dan ketakberdayaan, maka ia pun akan meminjam kata-kata busuk dan tercemar dari tong sampah kehidupan ini.

b. Kata kotor adalah cara untuk merasa berkuasa, walau hanya sejenak

Bukankah Anda akan mengumpat, justru di saat Anda merasa diri kecil, kalah telak, terjebak kemacetan, ditegur keras oleh atasan, atau pun kala dikhianati, bukan?

Orang akan merasa, bahwa dirinya berkuasa, di saat dia sadar tak sanggup mengubah dunia yang brengsek ini, bukan? Tapi, dia sempat memanfaatkan mulutnya untuk menghakimi. Ya, itulah bentuk kekuasaan palsu dan murahan.

c. Kata kotor adalah doa yang terbalik

Nah, inilah contohnya, “Datanglah Kerajaan-Mu.”

Si Pengumpat akan berdoa, “Pergilah kau ke api yang berkobar-kobar itu.”

Bukankah kedua bentuk doa itu justru sama-sama merindukan keadilan?

Jika Anda membuka catatan harian si mulut kotor, janganlah kau baca kata-kata kotornya. Tapi, baca dan pahami air mata derita di balik kata-kata kutukan itu. Di sana, terpampang sebuah tulisan sangat kecil, “Aku lelah, aku marah, aku muak, dan aku merasa sangat terbuang dan dibenci.”

  1. Catatan Kedua: Mengapa Kata-kata Kotor Terasa Nikmat?

Secara filosofis, bahwa lewat umpatan, orang justru merasa enak dan ada kenikmatan. Mengapa demikian?

Ya, karena Kata-kata Kotor Memberikan Tiga Ilusi yang Disukai Ego

  • Ilusi Kejujuran: “Aku ini suka transparan serta apa adanya, tidak munafik seperti orang-orang suci itu.” Padahal, mengatakan hal yang kotor itu bukanlah sebuah kejujuran. Karena jujur itu justru jika Anda mengatakan hal yang benar.
  • Ilusi Keintiman: Di tongkrongan, kata kotor bahkan jadi password persaudaraan. “He, jika Anda mau kotor bersamaku, berarti kamu adalah saudaraku.”
  • Ilusi Pelepasan: Bukankah setelah Anda mengumpat, lalu dada Anda akan terasa lega, bukan?

Maka, para filsuf Stoa menyebut hal ini dengan istilah ‘catharsis’ yang artinya ‘palsu, suatu pembersihan palsu,’ karena hal itu justru mengotori.

  1. Catatan Ketiga: Mulut adalah Muara, Bukan Sumber

Jika sebuah sungai itu kotor dan berbau busuk, maka orang bijak tidak membersihkan muaranya saja, tapi juga menelusuri ke hulunya.

Jalan pertobatan bagi si mulut kotor itu bukan dengan cara membungkam mulut. Sambil orang berkata, “Besok, aku tak mau mengumpat lagi.” Ya, ia cuma berhasil dalam waktu dua hari. Tapi, di hari ketiga, umpatan itu akan muncul lagi dan justru dengan lebih sadis lagi. Mengapa demikian? Karena ia hanya mampu menutup muara, tapi sampah di hulunya masih terus dibuang.

Jalan pertobatan sejati itu adalah dengan cara bertanya, “Sampah apa yang selama ini aku buang ke hulu hatiku?”

(1) Tontonan jenis apa yang selalu aku pelototi setiap malam?

(2) Lagu macam apa yang selalu aku dengar dan dengungkan di setiap waktu?

(3) Dengan siapakah aku selalu akrab bergaul?

Ingatlah, bahwa mulut itu hanyalah corong pengeras suara dari hulu. Maka, bersihkan segera hulunya!

“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah pula kita mengutuk sesama manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. Dari mulut yang satu keluarga berkat dan kutukan. Hal ini saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”
(Yakobus 3: 9-10)

  1. Catatan Terakhir: Dari Mulut Kotor Menjadi Mulut Berkat – Jalan Pulang

Bagaimanakah catatan harian itu berakhir?

Ya…

  • Berpuasa dan bermatiragalah selalu
  • Ganti kamus, bukan bungkam kamus
  • Biarkan mulut kotor itu berdoa

Katakan, “Tuhan, inilah aku. Inilah kata-kataku yang paling busuk. Aku tidak punya kata-kata yang lebih indah. Terima kasih.”

Kediri, 24 Oktober 2026