Satu Tubuh, yaitu Yesus Kristus

Pornografi pada zaman ini sangat dibantu penyebarannya dan menjadi ladang bisnis yang besar oleh teknologi informasi dan internet. Pikiran dan perasaan manusia secara alamiah gampang tergoda, bertumbuh sensasinya dan terbakar naluri seksualnya, ketika ia menemukan tubuh wanita atau laki-laki ditampilkan dengan begitu terbuka melalui media-media berbasis internet. Tubuh manusia benar-benar dipertontonkan dengan motivasi yang beragam.

Efek penonjolan tubuh manusia ini antara lain menyinggung kenikmatan daging di mana tubuh manusia pria dan wanita tidak dipandang sakral, tapi sekadar objek untuk pemuasan nafsu kenikmatan. Pandangan tubuh yang cenderung duniawi akan mengaburkan gambaran tubuh secara rohani, yaitu satu tubuh Yesus Kristus.

Kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus secara tegas mengajarkan, bahwa kita sebagai bagian dari satu tubuh tersebut, memiliki kewajiban untuk menyatu dengan Kristus dan Paulus, yang merelakan tubuh untuk menderita demi pembebasan kita dari dosa-dosa yang disebabkan oleh kecenderungan kedagingan dan pengaruh dunia yang hanya sementara.

Yesus Kristus sebagai pokok pembebasan. Ia telah membuktikan dengan mati atas tubuh-Nya sendiri, tubuh umat manusia yang berdosa, dan tubuh dunia ini yang sudah diselimuti dosa.

Paulus ingin mengikuti teladan Yesus Kristus. Gambar-gambar dan video dalam situs-situs porno tetap berada di dalam sistem digital yang diciptakan, mereka tidak bikin apa-apa terhadap mata yang memandang. Pikiran dan perasaan pemilik mata itu bergerak menjurus semaunya dia, yang seperti kata orang, tergoda untuk berdosa.

Gambar-gambar dan video-video sedang menegur kita: Oh…tubuh manusia yang sakral, Tuhan memilih untuk tinggal di dalamnya. Tidak usah terlalu memuja atau melecehkan tubuh milik orang lain. Kita perlu menjaga dan merawat tubuh sendiri, karena di dalam tubuh ada jiwa yang terbuka untuk memuji Tuhan.

Mengikuti Santo Paulus, kita mestinya tidak memanjakan tubuh kita hanya untuk sebuah kenikmatan duniawi. Kita lebih memilih untuk memeliharanya secara bertanggung jawab, karena Tuhan memilih untuk tinggal di dalamnya.

Kita memiliki satu tubuh dalam Yesus Kristus yang sakral dan yang menguduskan kita dalam satu Gereja. Melalui satu tubuh itu kita memiliki hak untuk diselamatkan sebagai satu kawanan umat Allah, murid-murid Kristus. Kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi tubuh sesama kita yang terlanjur berada dalam ancaman dan bahaya terkucilkan dari jalan kepada Tuhan. Tanggung jawab ini melekat dalam diri kita sebagai Gembala yang baik.

“Tuhan yang Maha Kuasa, tinggallah selalu di dalam diri kami, sehingga hati kami senantiasa mengalami suka cita dan damai sejahtera. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)