Refleksi Filosofis-Antropologis:
Pagar Makan Tanaman

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Salah satu rahasia sukses adalah jadilah solusi dan bukan problem”
(Shiv Khera)

  1. Filosofi Dasar: Pengkhianatan Fungsi
  • Pagar: Pagar itu berfungsi untuk menjaga agar yang di dalamnya aman. Ia berada di bagian luar, yang akan merasakan kepanasan dan kehujanan. Tujuannya hanya satu, jadilah setia.
  • Tanaman: Fungsinya adalah dipercaya. Ia berada di bagian dalam. Ia akan disirami, dipupuki, dan diharapkan akan bertumbuh. Ia memang rapuh dan sangat bergantung pada pagar.

Adagium “Pagar Makan Tanaman” bukanlah sekadar kejahatan biasa, melainkan kejahatan metafisik.

Jika kejahatan dari luar (lain) akan berteriak, bahwa ‘akulah musuhmu.’ Maka, ia adalah musuh yang paling jujur.

Pagar yang memakan tanaman justru berkata, “Aku ini sahabatmu” sambil ia memakan sahabatnya itu. Bukankah itu sebuah ironi?

Dalam konteks ini, luka tanaman itu justru jauh lebih dalam dan berdarah, karena ia tidak saja kehilangan, tapi juga lenyapnya kepercayaan pada konsep penjagaan itu sendiri.

Sejauh itu, setiap pagar yang baru pun akan dicurigai. Orang-orang pun enggan untuk menanam lagi.

Hal ini dinamakan kerusakan filosofis, karena akhirnya orang-orang akan takut untuk percaya.

  1. Mengapa Pagar Mau Makan Tanaman?

Secara Antropologis, Terdapat Tiga Akar:

a. Lupa Jati Diri: (Amnesia Ontologis)
Ternyata pagar lupa, bahwa dirinya adalah pagar. Ia telah tergoda saat melihat tanaman itu tampak: segar, manis, dan hijau. Seketika ia berpikir, “Alangkah enaknya menjadi tanaman yang bisa dinikmati, dan bukan seperti pagar yang hanya menjaga.”

Ia ternyata iri pada makhluk yang dijaganya itu. Akhirnya ia menurunkan fungsinya dengan hanya menjadi sebagai konsumen.

Hal ini sering terjadi pada para pemimpin kita yang seharusnya menjaga, tapi justru menikmati. Semisal, seorang suami yang malah rela menjual kesucian istrinya. Atau seorang penegak hukum yang seharusnya menjaga keadilan, malah menjual keadilan.

b. Kedekatan Tanpa Kekudusan

Bukankah orang yang berada jauh tidak akan memakan tanaman itu? Tentu hanya pagarlah yang bisa dan mudah untuk memakannya.

Maka, dosa terbesar justru selalu lahir dari kedekatan tanpa batas, karena mereka sudah dekat dan merasa berjasa, maka ia merasa memiliki hak.

“Jika aku sudah menjaga kamu, maka wajarlah, jika aku memakan sedikit dari hasilmu” (Inilah sebuah logika sesat yang tidak dimurnikan lewat doa-doa).

c. Lapar yang Salah Alamat

Ternyata pagar itu lapar. Sayangnya ia mencari makan di tempat yang salah (Ia telah menodai tanah kesetiaannya dari air keikhlasannya).

Refleksi

Allah justru telah menjadi Tanaman dan bukan Pagar. Yang terjadi justru bukan Pagar makan Tanaman, melainkan Tanaman memberikan Diri untuk dimakan.

Yesus sebagai Taman berkata, “Makanlah Aku, supaya Anda si Pagar yang rapuh ini menjadi kuat.”

Kediri, 23 Oktober 2026