Puing Arang dan Serpihan Debu
Mosaik Serpihan Kelana -82
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Rakyat jelata yang lara menderita
adalah puing-puing arang di lahan kebakaran
Nasib mereka hitam legam direnggut nyala api kerakusan para penjahat
Masyarakat sederhana sahaja yang tak mampu bicara
Harkat martabat hidup mereka telah dibungkam tirai gulita kabut asap ketamakan para bandit
Sering terdengar suara pidato pongah
bahwa penyebab kebakaran adalah karena perubahan cuaca alam
bahwa yang salah adalah para petani ladang berpindah
Bahkan ini hanya cambuk kecil dan cobaan dari Sang Ilahi
Hitamnya pikiran dan nurani para penjahat
tak peduli menghanguskan harkat martabat rakyat kecil di negeri ini
Karena kerakusan harta kekayaan telah menguasai jiwa raganya
Karena mereka mempunyai kuasa, modal, senjata dan iptek canggih
Gelapnya sanubari para bandit di negeri ini
telah mengubah ekosistem dan nasib hidup masyarakat sahaja
menjadi puing hitam arang dan serpihan debu lara merana
Jeritan pilu dan air mata rakyat diabaikan seperti sampah
Suara gugatan nasib masyarakat korban dianggap angin berlalu
Bumi tanah merangkul diam tanpa suara
Telapak gundah gulana nasib para korban
Puing arang pepohonan margasatwa dan ekosistem yang musnah perlahan sirna
Serpihan debu galau dan pilu pada fakta kebiadaban terus membara
Angkasa merekam kabut hitam asap ketamakan
yang menutup sinar mentari dan menjauhkan hujan
Segala upaya anak bangsa yang solider bersuara
untuk mendapat pertolongan dan perubahan kebijakan publik
ternyata seperti debu jalanan yang digilas kendaraan mewah
Para bandit terus bersandiwara
dan para penjahat terbahak berpesta pora
Darah dan air mata rakyat kecil
menetes dan tumpah membasahi bumi Pertiwi
lalu mengalir ke muara dan samudra kepasrahan
Desah nafas yang tersengal membisik doa ke angkasa
karena keadilan hukum tak pasti bahkan sirna
Langkah kaki yang goyah tak kuasa berdiri tegak menggugat
Jiwa raga yang terbungkus kabut asap ketamakan
tak mampu bersuara membela nasib yang lara merana
Arang tak pernah menjelma menjadi hutan hijau lestari
Kabut asap hitam tak mungkin memberi kesegaran jiwa raga dan lahirkan harmoni damai
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.