Jeritan Lara di Tugu Proklamasi
Mosaik Serpihan Kelana -80
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

1.
Anak-anak negeri yang galau merana
menyalakan lilin-kilin kecil harapan
Datang menjerit di pelataran tugu proklamasi
Datang daraskan doa lintas agama di tengah gemerlap kekuasaan dan kerakusan
Datang menggugat proklamator dan para leluhur bangsa
Mengapa hutan negeri ini terus dibakar ketamakan harta
Mengapa langit tanah air dipenuhi asap hitam kekejaman kuasa
Ke manakah nasib rakyat dan alam lingkungan hidup. Sampai kapankah balada derita ini berakhir?
2.
Ayat-ayat doa dilantunkan dengan jiwa yang getir
Untaian kata permohonan mengalir bersama raga yang luka dan nalar yang kebingungan
Nada-nada sendu berdenting dari sanubari jiwa yang rapuh penuh tanya
Apakah kemerdekaan bangsa ini untuk kembali dijajah oleh segelintir anak bangsa sendiri
Ataukah penjajahan asing berinovasi dengan boneka anak bangsa
Di manakah negara dan para pejabatnya yang digaji dari uang rakyat
Rupanya kata dan angka telah menjadi tujuan proklamasi
Ya, Sang Ilahi
tolonglah nasib rakyat bangsa kami
yang sedang terbakar kerakusan dan diselimuti asap ketamakan
3.
Suara sekelompok kecil generasi mengalun lirih
di tengah riuhnya keramaian kota dan derasnya gelombang informasi zaman
Ada fakta seperti ironi menghancurkan tembok baja kekuasaan dengan jari kelingking
Nyala lilin-lilin kecil seperti upaya sia-sia
menantang gemerlap cahaya kesombongan para pejabat korup, politisi busuk dan pemodal tamak Ada tanya yang menggelitik di antara temaram taman proklamasi
Apakah jiwa proklamator dan para pahlawan mendengarkan jeritan nasib bangsa
Bisakah roh para leluhur turun menolong bencana kejahatan yang menimpa rakyat
Masihkah Sang Ilahi mendengarkan doa segelintir anak-anak negeri?
4.
Jeritan kara nasib rakyat digaungkan sambil menghentak bumi
Gugatan derita kasus tambang, penggundulan hutan, kebakaran di seluruh negeri dibacakan
sambil kucurkan air mata dan jemari meraih angkasa
Ada tuntutan kepada berbagai pihak yang diduga harus bertanggungjawab atas berbagai bencana kejahatan di negeri ini
Beberapa media coba meliput dan nanti menyiarkan informasi
Tetapi…
Berapa orang yang akan peduli mendengarkan jeritan ini
Siapakah yang mau tahu dan menyadari tindakannya yang jahat
Hanya keadilan Sang Ilahi yang dinantikan
untuk memulihkan nasib bangsa dan dertia rakyat
5.
Jeritan lara di pelataran Tugu Proklamasi
hanyalah serpihan jumlah dari suara yang terbungkam di seluruh bangsa
Doa dan suara gugatan di hadapan para Proklamator NKRI
hanyalah sekelumit puing dari cerita rakyat di negeri ini
Bara api kerakusan masih berkobar membakar alam Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra
Kabut asap ketamakan segelintir orang terus menutup langit nasib rakyat di tanah air ini
Nyala lilin-lilin kecil adalah tanya di dalam gulita sunyi
Untaian doa lintas agama adalah rintihan jiwa raga dalam tubir ketakberdayaan
Masihkah ada hujan rahmat untuk memadamkan api kerakusan para penjahat
Adakah angin Ilahi yang segar untuk melerai kabut asap ketamakan para pejabat korup, politisi busuk dan pebisnis rakus tamak
“Ya, Sang Ilahi Maha Melihat
di pelataran kerahiman-Mu kami mengetuk
nyatakanlah kuasa dan pertolongan-Mu
Ya, Allah yang Maha Adil
di bawah telapak kemurahan-Mu kami bersujud
Turunkanlah pengadilan-Mu bagi semua kejahatan yang terjadi di bangsa negara kami
Pimpinan hidup kami menurut rencana-Mu dan kehendak-Mu”
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.