Tempat Kita Bersama Kristus di Surga

Bagi orang-orang yang percaya, Surga dan bumi mempunyai kaitan yang sangat kuat. Kehidupan mereka tidak boleh hanya berhenti di dalam dunia, tapi harus bersambung kepada hidup abadi di Surga. Sebenarnya kita tidak dilarang untuk mengisi hidup di dunia ini dengan memenuhi semua kebutuhan jasmani. Kita perlu sandang, pangan, dan papan. Kita perlu sesama supaya bersosialisasi dan kerkomunikasi. Kita perlu uang untuk membeli dan menjual barang-barang.

Adalah kesalahan dan berakibat pada penyesatan hidup sendiri, jika semua kebutuhan di dunia ini menghalangi kita untuk melihat masa depan kehidupan setelah kematian. Menjadi malapetaka kekal, jika semua kebutuhan duniawi itu menutup jalan untuk mengarahkan hidup kita kepada Tuhan.

Dua bersaudara beranggapan, bahwa nasib hidup mereka cukup ditentukan dengan pembagian harta di antara mereka. Jika terwujud mereka pasti bahagia. Sikap seperti ini ada di dalam diri mereka yang mengejar harta dunia hingga mengorbankan ketenangan batin, rasa nyaman di dalam keluarga, relasi persaudaraan, dan semangat hidup rohaninya.

Sepasang suami-isteri yang masih muda sedang gila bekerja, karena mereka ingin mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Tapi akibat hanya fokus pada satu aspek itu, anak mereka yang masih kecil tidak terurus, bahkan kesehatan dan pertumbuhannya terganggu. Mereka sering sengaja melewatkan kesempatan berdoa dan beribadat. Hidup rohani mereka kering dan pada suatu ketika perkawinan mereka di ambang kehancuran. Pribadi masing-masing sudah tidak menjadi daya tarik lagi bagi pasangannya. Mereka memilih penghiburan di luar, termasuk perhatian dan kasih sayang dari pihak ketiga dan keempat. Hal ini adalah ilustrasi jelek sekali yang diakibatkan oleh pengaruh duniawi yang dipentingkan, sedangkan kehidupan rohani dan kesetiaan iman diabaikan.

Terhadap sikap hidup seperti ini, Tuhan Yesus menegur kita dengan nasihat-Nya: “Hidup kita tidak bergantung pada semua kekayaan itu.” Nasihat ini bukan berarti kita membuat keseimbangan dalam memiliki harta duniawi dan harta surgawi menjadi 50% – 50 %. Hal seperti ini bukan sebuah pilihan yang terbaik, karena resiko untuk cenderung berpindah ke arah duniawi sangatlah besar. Adalah lebih bijak, jika kita membuat orientasi condong ke arah surgawi lebih besar, yaitu mulai dengan 51 persen ke atas.

Hal ini sangat berguna untuk memberikan kita sebuah keyakinan, bahwa arah untuk mencapai rumah abadi bersama Kristus di Surga menjadi terang. Itu adalah amanat Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus.

“Ya, Yesus Kritsus, semoga perjalanan hidup kami tetap menuju ke tempat-Mu di Surga. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)