Refleksi Budaya:Nunchi

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Nunchi,” tidak butuh ijazah tinggi, tidak butuh modal besar. Justru pada mereka yang tidak memiliki keduanya, kepekaan dan ketajaman nunchi menjadi senjata untuk bertahan dan maju”
(Eillen Rachman & Emilia Jakob)

Ada satu kata dalam bahasa Korea yang sulit dipadankan dengan bahasa mana pun, yaitu nunchi. Secara harfiah, artinya ukuran mata. Nunchi adalah seni halus membaca pikiran dan perasaan orang lain. Bukan melalui ucapan, melainkan dari perubahan raut wajah dari jedah yang terasa lebih panjang daripada biasanya, dan dari suasana ruangan yang berbeda. Demikianlah pandangan Eillen Rachman & Emilia Jakob, konsultan SDM Kompas dalam Kompas Sabtu-Minggu, (17/18/10/2026), yang berjudul Nunchi, Kekuatan Membaca Ruang.

Selanjutnya dijabarkan, bahwa seni nunchi telah dipraktikkan sejak sekitar tahun 2.500 tahun silam, yang berakar dari ajaran Konfusius tentang harmoni dan tata krama dalam relasi antarmanusia.

Yang menarik, karena ternyata nuchi hingga hari ini masih sebagai penanda khas dari cara orang Korea membangun relasi antar sesama. Bahkan mereka menyebutnya sebagai ‘indra keenam’. Ia justru bekerja jauh lebih cepat seperti insting daripada nalar (logika).

Dilukiskan, bahwa potensi nunchi ini akan sangat tajam di saat orang memasuki sebuah ruangan. Ia akan segera tahu, apa yang sedang terjadi, apakah suasana itu tulus, munafik, penuh kepura-puraan, akan dibaca secara detail lewat potensi nunchi. Di sisi lain, orang yang tidak memiliki potensi nunchi sama sekali tidak menangkap sinyal spesial ini. Mereka yang sedang bercanda akan terus bercanda dan yang bersedih pun akan tetap bersedih, karena ketakmampuan mereka untuk menangkap sinyal spesial ini.

Dekat dengan Emotion Quotient (EQ)

Ternyata potensi nunchi ini sangat dekat dengan kecerdasan emosional (Emotional Quetient), yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, yang juga memopulerkan konsep ini, membagi kecerdasan emosional dalam empat unsur, yaitu kesadaran diri, pengenalan diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan pengelolaan hubungan. Demikian Eillen & Emilia.

Menurut Euny Hong

Euny Hong Penulis buku The Power of Nunchi, relevansi dalam budaya kerja penuh hierarki dan basa-basi, bahwa bagaimana nunchi dapat menjadi senjata pemungkas bagi mereka yang kurang beruntung.

Nunci tidak butuh ijazah tinggi dan modal besar, bahkan mereka yang tidak memiliki keduanya pun akan mampu, jika mereka memiliki sikap kepekaan dan ketajaman nunchi.

Mereka yang memiliki nunchi akan mampu menangkap sinyal suasana kerja dan bahkan mampu membaca pikiran serta perasaan hati atasan mereka. Nah, karyawan yang memiliki nunchi akan bersikap cermat, cerdas, dan tanggap terhadap kondisi riil yang sedang mereka hadapi bersama.

Nunchi yang Sehat

Nunchi yang sehat adalah ‘kepekaan untuk membangun kepercayaan dan relasi yang lebih baik dan bukan sebagai sarana untuk menghilangkan diri sendiri,’ demikian pandangan Eillen & Emilia.

Konkret dan praktisnya, bahwa nunchi mengajarkan kita agar lebih banyak mendengar daripada berbicara, cermat membaca ekspresi wajah lelah dari pasangan atau anak-anak kita, juga kepekaan untuk membangun relasi ideal dengan sesama, dan kesadaran untuk mengendalikan diri di ruang publik.

Pertanyaan Terakhir

Bertanyalah kepada diri sendiri, bahwa “sejauh manakah saya telah memanfaatkan potensi nunchi dalam hidup saya?”

Kediri, 19 Oktober 2026