Maaf, Mohon Pembayaran Tunai

“Belanja pelanggan tetap dengan tukar bon itu biasa. Kini faktanya diperketat, pelanggan pabrik, toko, dan umkm yang belanja bahan baku itu diminta membayar tunai.”
Realitas pahit itu menjadi potret buram dunia usaha belakangan ini.
Jujur, awalnya saya kaget dan tidak percaya, jika tidak melihat langsung dari pelaku umkm itu.
Saya membeli suatu barang di toko kelontong depan gerbang komplek perumahan. Sopir mobil box itu menanyakan langsung ke pemilik toko, MK mengenai pembayaran pembelian barang pesanan!
Barang-barang itu diturunkan, jika dibayar MK. Artinya, Bos dari sopir itu minta pembayaran tunai kepada para pelanggan dan tidak melayani hutang!
Situasi ekonomi yang sulit membuat banyak pengusaha menyeleksi para pelanggan, dan memprioritaskan mereka yang membayar di depan, alias tunai.
Fakta itu dipertegas oleh produsen barang yang bahan-bahannya diimpor. Dimulai sejak nilai Rupiah tergerus USD, ekonomi semakin lesu, phk masal, dan daya beli masyarakat yang cenderung anjlog.
Tidak hanya itu, seleksi alam juga terjadi bagi produsen rumahan; umkm. Tanpa mentransfer uang terlebih dulu atau membayar tunai, barang pesanan tidak dikirim atau diturunkan oleh sopir toko bahan.
Imbas dari pembayaran barang/bahan secara tunai itu adalah pedagang atau reseller produk rumahan itu terdampak juga, yakni diminta disiplin membayar, jika ingin tetap diberi dagangan.
“Situasi ekonomi yang makin sulit ini membuat kami nombok,” jelas DM yang harus menambah modal lagi, untuk memutar roda usaha. Mendisiplinkan pelanggan dan pedagang itu bukan berarti kurang mempercayai mereka, melainkan untuk berjaga-jaga agar usaha kita tidak ambruk, dan bangkrut.
Sejatinya seleksi alam itu juga untuk menyeleksi pelanggan supaya piawai dalam mengelola keuangannya.
“Besar pasak daripada tiang itu suloyo!”
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.