Bertobatlah supaya Selamat

Seruan dan desakan untuk bertobat pertama-tama dibuat oleh Tuhan atas nama kasih dan kerahiman-Nya yang menghendaki supaya manusia ciptaan-Nya dapat selamat. Tuhan Allah kasihan atas manusia yang pada awalnya diciptakan baik adanya, atau pernah diampuni melalui rahmat sakramen, tapi atas nama kebebasannya ia terlanjur jatuh lagi di dalam dosa.

Sama dengan Tuhan, Gereja sebagai Ibu juga kasihan, ketika melihat dan mengalami sendiri, bagaimana para anggotanya itu hidup jauh dari dirinya dan Tuhan. Dosa dan kejahatan itu terlampau menyelimuti hidup pihak-pihak tertentu anggota Gereja, sehingga mereka terhalangi untuk menemukan terang dan kebenaran supaya berubah. Selain Tuhan dan Gereja, keluarga juga menjadi sedih, bahkan terpukul, karena anak-anak mereka jatuh dalam aneka kejahatan dan dosa. Lingkungan masyarakat yang lebih luas juga ikut ternoda.

Kita sebagai pribadi dan bersama dalam persaudaraan merasa kehilangan dan kecewa, ketika satu atau dua di antara kita berlaku tidak sopan dan melakukan tindakan kejahatan. Terhadap semua keadaan berdosa dan kenyataan hidup yang jauh dari Tuhan seperti ini, semangat Kristen memiliki satu sikap utama, yaitu panggilan untuk pertobatan. Tuhan memanggil, demikian juga Gereja, keluarga, dan sesama ingin supaya anggota-anggotanya bertobat. Ketika orang yang dipanggil itu dapat mendengar atau menyadarinya, dan harapan agar ia terketuk hatinya dan mengambil langkah untuk pertobatan.

Firman Tuhan melalui bacaan liturgis ingin menyuarakan dengan lantang panggilan pertobatan itu. Panggilan itu dimulai dari Yesus Kristus, ketika Ia dengan tegas menyerukan, bahwa pertobatan merupakan jalan satu-satunya bagi orang-orang yang berdosa untuk dapat memperoleh keselamatan. Di antara banyak dosa pada manusia, dosa yang ditekankan oleh Yesus ialah menunjuk kepada orang lain yang berdosa, sementara diri sendiri tidak diperhatikan dosanya. Ini adalah cara munafik yang dilakukan para Farisi dan ahli Taurat. Menurut Tuhan Yesus, dosa kemunafikan ini jauh lebih besar daripada mereka yang sudah terhukum, karena telah melakukan kesalahan tertentu.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, memberikan solusi untuk mengatasi sikap munafik ini. Kita perlu mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Kristus, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus. Jika kita berhenti berbuat dosa dalam segala kemunafikan, maka kita akan menjadi selamat.

“Ya, Tuhan, pandanglah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang berharap selalu belas kasih-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)