Kobar Api dan Kabut Asap

Mosaik Serpihan Kelana -76
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


1.

Kobar api itu terus membara dan menyala
Pikiran yang dikuasai api keserakahan
membakar kesehatan otak dan kecerdasan nalar untuk sadari hakikat diri pribadi
Nalar yang digilas selera dan gengsi
demi kekuasaan dan harta kekayaan
telah menghanguskan harkat martabat kemanusiaan
Kabut asap membutakan mata hati nurani
tak peduli kerusakan alam lingkungan
tak mau tahu nasib lara derita jutaan sesama
Karena semua diyakini bisa dijawab dengan kata janji indah
Karena ada seribu topeng dan sejuta wajah untuk bersandiwara
Karena angka dan data mampu dipermainkan dengan sarana teknologi digital
Bara nyala api menghanguskan sanubari
dan kabut asap hitam membutakan kebeningan jiwa

2.

Bara dan nyala api adalah kerakusan diri
Kabut asap hitam adalah ketamakan dan kebodohan pribadi
Sedangkan…
debu dan arang hitam seperti nasib lara derita rakyat korban di seluruh negeri
Pada serpihan puing yang berserakan merana
penghuni alam yang tak kasat mata membaca wasiat hutan rimba dan margasatwa
Ada puing-puing doa harapan yang menggeliat menanti cahaya keadilan angkasa
Ada tanya dan gugatan putus asa yang diterbangkan angin kepada samudra
Kapankah para pelaku kebakaran dan pemilik api akan mendapat karmanya?

3.

Ada kabar burung yang tercecer di halaman sosial media
bahwa kebakaran hutan di negeri ini memang sengaja dilakukan tangan-tangan tak kelihatan
agar gampang menguasai lahan di tanah air
demi membuka juataan hektar perkebunan sawit
Ada juga cuitan angin yang sepoi berhembus
bahwa sudah ada pengusaha yang ingin mengkavling lahan kebakaran untuk usaha perkebunan dan pertambangan
Ada lagi percik bara api yang bicara
bahwa kebakatan hutan itu akibat perseteruan antar pengusaha
bahwa kabut asap menjadi cara sakti membebaskan diri dari kewajiban reboisasi dan aneka pajak usaha
Entah…
mana kebenaran obyektif dan hakiki sejatinya
Entah…
seperti apa fakta yang terjadi dengan aneka berita di sosial media

4.

Kobar bara dan nyala api kerakusan masih terus bergelora
dari Papua, Kalimantan hingga Sumatra
Kabut asap hitam menyebar ke mana-mana di tanah air hingga ke negeri tetangga
Jiwa raga rakyat kepanasan dikejar bara nyala api
Mata nalar masyarakat korban tertutup kabut asap hitam
Ketika bertanya โ€œini salah dan dosa siapa”
maka jawabannya adalah saling mempersalahkan dan aksi mencuci tangan
Ketika meminta pertolongan kepada pihak berwenang di lokasi kejadian
sering jawabannya beraneka ragam
soal sarana pendukung hingga anggaran kerja
soal kewenangan dan tugas pokok serta aturan
Akhirnya tanya bermuara pada gugatan
“Untuk apa dan siapakah hadirnya Negara Indonesia ini?โ€

5.

Bara dan nyala api kerakusan terus berkobar
dan membakar jiwa raga rakyat negeri ini
Kabut asap terus mencekik nafas dan nasib bangsa
Sedangkan…
para pejabat korup dan politisi busuk terus berpesta pora
para pemodal rakus tamak tertawa terbahak di atas tumpukan harta kekayaanya
Dan…
panasnya musim seperti turut mencekik nasib para korban
karena alam jagat ini pun sedang marah
Mungkin gempa bumi dan gunung meletus menjadi jawaban bumi
Mungkin banjir bandang adalah teguran angkasa raya
Mungkin angin badai dan ketakpastian musim adalah gugatan jagat semesta
Kapankah hujan keadilan turun memadamkan api kerakusan di negeri ini
Adakah tangan sakti yang mampu melerai kabut asap kebodohan bagi bangsa lara merana ini?