Refleksi Filosofis:
Antara Dahsyat Ombak dan Gemulai Buih

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Janganlah kalah oleh dasyatnya ombak. Tapi kalahkan ombak dengan gemulainya hatimu”
(Suara Sang Kebenaran Sejati)

  1. Dahsyat Ombak : Hidup yang Menghantam

Ketahuilah, bahwa kedasyatan ombak itu memang sungguh luar biasa. Ia tak mau peduli, siapakah atau bagaimanakah keadaan Anda. Dia tidak menunggu, apakah Anda sudah bersiap ataukah tidak.

Ketahuilah, Siapakah Sejatinya Ombak Dasyat itu?

  • Ombak dahsyat itu adalah ‘tagihan utang yang bertubi-tubi mampir di teras rumahmu.’
  • Ombak dahsyat itu adalah ‘putera kesayanganmu yang tiba-tiba jatuh sakit aneh.’
  • Ombak dahsyat itu adalah ‘bocor mulut, tetangga sebelah rumahmu yang doyan mengejek dan memfitnah sambil menjajakan nama baikmu.’
  • Camkan pula, itulah ombak dahsyat yang senantiasa mau mengganggu pulas tidurmu!

Ya, itulah sebait nyanyian paling duka dari seluruh bagian seni hidup ini. Dia terkesan: sangat kejam, nyinyir, nanar, liar, dan tidak bertenggang rasa pula.

Ketahuilah, dampak psikologisnya, bahwa Anda dapat berubah drastis menjadi sekeras batu karang, atau berwajah muram, angker, dan mendadak jadi pendiam setelah dihantam ombak nan dasyat membahana itu.

  1. Gemulai Buih: Jawaban yang Mengalun Lembut

Bukankah bahwa buih-buih itu adalah sebuah keajaiban hidup? Ya, karena dari ombak yang dasyat menghujam, namun yang dihasilkannya, ya, hadirnya buih-buih memutih nan permai di bibir pantai kehidupanmu.

Benar, karena buih-buih itu tampak gemulai, lembut, memutih, ringan, dan cantik pula. Hal itu justru sangat kontras dan berseberangan dengan dasyatnya ombak.

Itulah simbolisasi dari sesosok pribadi yang justru membalas dengan mendoakanmu, setelah dia dihajar olehmu.

Ketahuilah, bahwa dahsyat ombak itu adalah ‘nasibmu,’ dan ‘buih-buih itu adalah pilihanmu!’

Kita tidak tahu dan tak pernah menduga, bahwa seberapa dahsyatnya deburan ombak itu. Tapi sewajarnya kita bisa memilih, apakah kita mau jadi seonggok batu karang ataukah jadi buih yang lembut menawan?

Kediri, 15 Oktober 2026