Penyaliban Daging Kita

Spiritualitas Kristen mendapatkan sumber utamanya dari Yesus Kristus. Meskipun di dalam perkembangan dan pertumbuhan Gereja, pengaruh kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda itu ikut memberikan warna kehidupan Kristen, namun Yesus sebagai pusatnya tidak pernah berubah. Tuhan Yesus Kristus ingin supaya jiwa-jiwa manusia dapat selamat dan sampai ke Surga, sementara tubuh mereka akan mati dan menyatu dengan alam di dalam dunia.
Seorang remaja laki-laki bertanya kepada Ibunya tentang makna nafsu duniawi. Setelah dijelaskan, remaja itu dapat mengerti, jika ia tidak bisa mengontrol makanan yang manis, ia akan menderita penyakit gula. Tidak bisa mengontrol makanan berlemak, ia akan menimbun kolesterol yang berujung pada serangan jantung. Tidak bisa mengontrol gairah seksual, ia akan terjerumus ke dalam pornografi dan seks bebas. Tidak bisa mengontrol bermain games, belajarnya di sekolah akan mengalami hambatan. Dan masih ada daftar panjang yang dibuat remaja itu di dalam catatan hariannya.
Nasihat orang tua yang disusul dengan tumbuhnya kesadaran remaja itu memang sejalan dengan misi Tuhan Yesus Kristus. Dalam semua ajaran-Nya, hal tentang penyangkalan diri dan memanggul salib adalah penekanan yang utama demi mengikuti Dia sebagai murid-murid-Nya. Penyangkalan diri bermakna sebagai penyaliban keinginan daging kita. Menurut Santo Paulus kepada jemaat di Galatia, daging merupakan segala bentuk hawa nafsu dan keinginannya yang diatur dalam hukum Taurat. Hukum ini berlawanan dengan Roh Kudus yang melahirkan hukum cinta kasih.
Yesus dan orang-orang kudus mengajarkan kita, bahwa penyaliban daging atau juga yang disebut mati raga bertujuan membawa kita mencapai kesempurnaan.
Kitab Suci mewartakan tentang penyangkalan diri sebagai kewajiban yang dilakukan setiap pengikut Kristus. Semua semangat kedagingan yang terungkap melalui pemuasan tubuh dan yang menjadi kesibukan kaum Farisi harus dapat dimatikan, jika tetap dibiarkan jiwa-jiwa kita akan mengalami kesulitan untuk mendekat kepada Tuhan. Kehidupan rohani kita sebagai jalan kepada Tuhan bahkan bisa mati. Yesus berkata, “Celakalah” bagi mereka yang mengutamakan keinginan daging dan tidak menyalibkannya.
Yang sangat dikawatirkan, jika kecelakaan itu sungguh terjadi ialah orang itu tidak dapat masuk ke Surga untuk mengalami kehidupan yang kekal. Hal ini seharusnya menjadi peringatan terus-menerus kepada kita agar tahu, bahwa semua yang berkaitan dengan daging atau tubuh akan berhenti di dunia ini. Sedangkan jiwa akan membawa kita ke Surga.
“Allah yang Maha Kuasa, berkatilah semangat iman kami untuk selalu meningkatkan upaya penyangkalan diri demi membuat jiwa kami bersih dan murni. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.