Menangkap Angin Memeluk Mentari

Mosaik Serpihan Kelana -74
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Orang-orang tua renta berjalan tertatih meragukan langkahnya
masih ada mimpi ketika melihat anak cucunya tersenyum
Kakek Nenek lansia berjalan perlahan
ada yang hanya duduk di kursi roda
menunggu pembantu untuk mendorong
Sepertinya ada tanya dan damba yang terpatri di dahinya
Usia tua mengisahkan warna-warni jejak langkah
yang bersahabat dengan angin, air, api, tanah dan cahaya
Mereka sudah menulis seribu kisah tentang suka duka
Jiwa raganya mencatat sejuta cerita desah nafas dan desir darah
Umur tua dan usia lanjut adalah fakta buku kehidupanya

Manusia dewasa lincah berlari
Waktu ditawan dan ruang disekat
tetapi sejuta mimpi memacu angan terus bergerak
Kata dan angka adalah energi yang membara terus membakar hasrat
agar bisa menjadi apa saja
agar mampu menyerupai siapa saja
Namun,
sering ada anomali tentang selera rasa dan fakta
Bahwa keinginan memang tidak terbatas
bahwa rasa ingin tahu dan imajinasi tak padam
Tetapi
kemampuan jiwa raga pribadi selalu terbatas dalam ruang dan waktu
apalagi tentang pengetahuan, ketrampilan dan sarana pendukung
Udara memberi nafas untuk hidup
tetapi sering diabaikan dan dianggap biasa saja

Para generasi muda ceria memetik bintang
seperti sedang selfi di taman bunga dan di bawah panorama cahaya lampu kota
Sejuta pesona mewarnai canda tawa mereka
meskipun langkah kelananya masih tak pasti arah
biarpun jejak kakinya masih goyang mengembara
Nalar pikiran sedang dianyam pengalaman
diri pribadi terus didandani ilmu dan ketrampilan
Tradisi adat budaya masih mencengkram hasrat pribadi
yang ingin mengejar angin dan memeluk mentari

Anak-anak belia pewaris generasi
ada yang bermain di tengah kampung dengan kepolosan
ada yang menerjang hutan bersahabat dengan alam, tumbuhan, burung dan margasatwa
Ada yang telanjang badan bermain ombak dan dibelai pasir pantai
Kehidupan apa adanya mengajari mereka tentang kebenaran alamiah
sedangkan tradisi dan sekolah menjadi sangkar emas dan penjara bagi jiwa raganya
Angin itu teman bermain dan cahaya itu kawan setia
sehingga jarang menjadi asing dan tanya
Tetapi…
zaman telah merebut jiwa raga generasi
agar menjadi budak digitalisasi dan boneka teknologi

Janin dalam kandungan sedang menjadi bahan percobaan
apakah mengikuti hukum alam atau tunduk pada kecanggihan teknologi
Para orangtua sedang kompromi dengan kemajuan zaman milenial
Relasi mutlak manusia dengan alam sedang berinovasi ke layar maya dan menjadi generasi digital algoritma
Banyak ibu tak mau lagi menyusui bayinya demi kecantikan
dan kebutuhan gizi anak diganti oleh sapi dan kreasi pabrik
Angin perubahan selera dan gengsi menjadi energi bagi generasi
Cahaya mentari dipeluk dalam gadget dan dunia maya
yang menyediakan konten dongeng dan hari esok para bayi