Buku Resep Kumal Ibu Kita dan Bunda Maria

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kriteria yang baik untuk mengukur keberhasilan Anda dalam hidup ini adalah menghitung jumlah orang yang telah Anda buat bahagia.”
(Robert J. Lumsden)
Apa yang telah Anda Baktikan kepada Kehidupan ini?
Di pagi hari itu, ketika genap seribu hari kematian Ibunya, Putri semata wayangnya secara tidak sengaja, membuka lemari tua yang telah berpuluh-puluh tahun diletakkan di sudut dapur itu. Tangannya tidak sengaja menyentuh sebuah buku resep tua milik Ibunya.
Hatinya berdegup kencang antara harap dan cemas. Buku catatan apakah ini? Mengapa justru diletakkan di sini, dan apa pulakah isinya?
Digenggamnya erat buku berwana hitam kecoklatan yang tampak sudah lusuh itu. Perlahan lentik jemari ragunya mulai membuka buku kumal itu.
Kini setetes, dua tetes air mata pun meluncur perlahan, ke luar dari balik bola-bola mata sendu sembabnya. Hatinya pun kian bergetar.
- (1) ‘Pagi hari, siapkan bawang putih idaman Suami dan harus dibelah dua.’
- (2) Sarapan untuk Dony sebelum ke sekolah harus diletakkan di kepala meja, agar ia tidak rewel lagi.’
- (3) Oh ya, si Sulung suka protes, jika tutupan piring nasinya itu dari bahan plastik. Ia suka, jika ditutup dengan bahan dari anyaman. Tradisional itu. “Indah,” selorohnya.
- (4) Yang ini untuk si Bungsu, putri semata wayang nan cantik jelita. Ia hanya suka makanan manis: pagi, siang, dan malam.
- (5) Setiap pagi, ketika semua rutinitasku tuntas, biasanya aku bergegas ke kamar tidur untuk membereskan isi kamar.
Setelah menatap, membaca, dan sadar akan rumitnya pekerjaan Ibunya di setiap pagi hari, maka ia menelungkupkan buku kumal itu ke dada sadarnya. Ia mulai mengembara, mencari, dan merindu. “Ibu, oh ibu, kini aku mulai sadar, ternyata betapa rumit dan besar jasamu dalam mendidik dan memelihara kami.”
Vas Spirituale alias Bejana Rohani
Dalam setiap bulan Oktober, Gereja Katolik memiliki tradisi unik untuk berdevosi kepada Bunda Maria. juga digelari sebagai “Bejana Rohani alias Vas Spirituale.”
Sejak tahun 1891 Paus Leo XIII mengeluarkan ensiklik, bahwa bulan Oktober dikenang sebagai Bulan Rosario (Mensis Octobris, Mensis Rosarii).
Ya, Bunda Maria sebagai Ibu yang penuh dengan Roh Kudus. Dialah teladan iman yang setia dan penuh pengorbanan dalam melayani Yesus Putranya sebagai seorang Ibu dalam Keluarga Kudus di Nazaret.
Buku Resep Kumal itu adalah Catatan Cinta
Seluruh dedikasi dan cinta seorang Ibu sejati, kini tidak tertuang lagi di dalam sebuah buku resep kumal, tapi justru sudah terpateri nan indah di dalam sanubarinya. Ya, semua catatan tentang: kepedulian, keprihatinan, dan juga sebagai tanda cinta seorang Ibu demi melayani kebutuhan spesial bagi Suami dan anak-anaknya.
Ibu yang Setia Tiada Duanya
Buku Resep Kumal milik Ibu kita di dunia itu adalah sebagai tanda Injil yang hidup. Bunda Maria sebagai simbol Tabut Perjanjian Sempurna, yang telah menyerahkan dirinya untuk dipilih Allah sebagai Rumah bagi ‘Sang Firman yang menjelma menjadi daging’ (Verbum Caro Factum est).
Ibu kita di dunia ini pun adalah simbolisasi dari kesetiaan sempurna dari Bunda Maria.
Ibu yang Tidak Mau Pergi dan Berlari
Catatan tangan dari Ibu kita di dunia lewat Buku Resep Kumalnya ini adalah sebuah isyarat, tanda kesetiaannya. Hal ini membuktikan, bahwa Ia hanya ingin, agar tidak seorang pun dari anggota keluarganya yang hidup menderita.
Demikian pula dengan sikap Bunda Maria yang telah membuktikan kesetiaannya kepada Putranya. Ia rela untuk menderita lewat ketujuh kedukaannya, yang berakhir di atas puncak Kalvari di bawah kaki Salib (Mater Dolorosa dan Stabat Mater).
Sungguh, Ibu kita di dunia dan Bunda Maria telah membuktikan tanda kesetiaan serta cinta sempurna mereka dengan sikap tidak sudi pergi dan bahkan berlari.
“Ibu, inilah anakmu.” “Anak, inilah Ibumu.”
(Seruan dari Salib)
Kediri, 14 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.