Berani Bersikap Autentik

Dalam dunia kita, banyak pemangku jabatan dan pembuat kebijakan yang menyusun berbagai aturan yang menyusahkan rakyat. Dengan jabatannya, mereka itu memperoleh banyak kemudahan, sehingga tidak perlu mematuhi peraturan-peraturan yang mereka buat sendiri

Dalam Injil, ada tiga kecaman sekaligus yang disampaikan oleh Yesus kepada orang-orang Farisi.

  • Pertama: Mereka bisa membayar persepuluhan dari minggu, dan segala jenis sayuran. Tapi mengabaikan keadilan terhadap sesama dan kasih kepada Allah. Tujuan persepuluhan adalah sebagai tanda syukur kepada Tuhan, tapi orang Farisi sudah salah memaknainya, sehingga orang bukannya merasa bersyukur lagi, melainkan merasa diperas oleh mereka. Seharusnya orang-orang Farisi memperjuangkan keadilan kepada sesama dan kasih kepada Tuhan (bdk. Ul. 14:22; Im. 27:30).
  • Kedua: Mereka memiliki ambisi pribadi berlebihan yang ditunjukkan dengan suka duduk di tempat terdepan di dalam rumah ibadat dan senang menerima penghormatan di pasar. Kaum Farisi ini merasa hidupnya belum sempurna tanpa menerima puja-puji dari sesama manusia.
  • Ketiga: Mereka bersikap munafik ibarat kubur yang di luarnya rapi dan indah, tapi di dalamnya penuh kotoran, tulang belulang yang bau dan menajiskan (bdk. Bil. 19: 16). Sikap munafik itu busuk dan najis!

Selain kaum Farisi, para ahli Taurat juga dikecam oleh Yesus, karena suka meletakkan beban berat pada sesama, tapi mereka sendiri tidak mau terlibat memikulnya. Mereka mencari yang enak-enak saja, sementara yang berat dan buruk dilimpahkannya untuk orang lain. Sikap-sikap semacam ini tak berkenan di hadapan Tuhan.

“Tuhan, bantulah kami agar tidak bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Semoga kami dapat bersikap autentik dan selalu mengupayakan keadilan dan kasih kepada-Mu dan sesama kami. Amin.”

Ziarah Batin