Refleksi Filosofis:
Mata Hijau, Si Mata Duitan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Matanya hijau menyala, tapi hatinya tetap gelap gulita
(Didaktika Hidup Sadar)
- Makna Filosofi:
Warna ‘hijau’ (green) itu melambangkan ‘sifat tamak’ manusia atau ketamakan, alias kelobaan.
Sedangkan ‘mata hijau’ itu artinya ‘mata seseorang yang, ketika melihat apa saja, maka segala sesuatu itu dinilainya dengan uang. Jadi, apa saja akan ‘jadi uang.’
Ketika ia melihat sepetak sawah nan hijau, maka hijaulah katanya. Ia melihat sebuah rumah megah, maka hijaulah matanya. Bahkan di saat ia melihat sebuah peti mati, maka hijau pulalah matanya. Ya, itulah sejenis mata yang selalu merasa lapar. Tapi patut disayangkan, karena hatinya justru tetap gelap gulita.
Sedangkan ‘Mata Duitan’ adalah personifikasi dari jenis manusia yang sudah menempatkan uang itu bagaikan Tuhan. Mengapa? Ya, karena ia telah mengukur segala sesuatu dengan nilai uang.
- Di Depan Peti Mati pun Masih Menghitung
Jangan-jangan saat di depan peti mati pun ia masih juga menghitung untung dan rugi, berapakah harta warisan yang ditinggalkannya?
Andaikan tanah yang ditinggalkan dan diwariskan seluas sepuluh hektar, maka manusia mata hijau itu akan segera mengalkulasikannya.
Baginya segala sesuatu itu harus diukur dengan nilai uang. Dia tidak mempedulikannya dari aspek mana pun. Pokoknya, segala sesuatu itu baginya adalah uang. Itulah uniknya manusia yang bermata hijau.
Sayangnya mata duitan itu akan sibuk mengumpulkan uang, tapi ia lupa bagaimana caranya, ia seharusnya hidup. Jadi, dalam konteks ini, ia lupa menata, bagaimanakah seharusnya atau idealnya kualitas hidupnya.
Siapa saja Bisa Dijangkiti Penyakit Mata Hijau
Adalah riil pula, bahwa ternyata di dalam arena kehidupan ini, bahwa siapa saja bisa dijangkiti oleh penyakit mata hijau ini.
Siapa pun dia, entah seorang pemimpin agama, pejabat tinggi negara, ilmuwan kenamaan, atau pun sesosok pribadi yang sangat dihormati bisa kejangkitan penyakit nan unik ini.
Ya, bukankah orang-orang sering memplesetkan kata ‘duit’ dengan kepanjangan ‘dunia iblis terbesar atau terjahat?’ Ya, itulah sebuah fakta hidup yang sudah menjadi pemahaman umum.
Jika memang demikian adanya dan fakta mirisnya, jadi bagaimanakah sebuah strategi jitu, yang perlu dibangun demi mengantisipasi atau mengatasinya?
“Errare humanum est,” kata orang Latin. Bahwa ‘kelemahan itu adalah khas manusia.’ Artinya ‘siapa pun dia,’ bisa saja dijangkiti oleh si penyakit ber-‘mata hijau ini.’
Jika memang demikian lemahnya kualitas hidup seorang anak manusia untuk bertahan melawan godaan uang alias mamon, maka sudah sepatutnya, kita perlu berwaspada dengan menyadari akar dari kelemahan dasar serta bawaan kemanusiaan kita.
Maka, marilah kita bersikap teguh, tegas, dan bersepakat, bahwa “UANG” adalah “Upayaku Agar
dapat Nahan Godaan.”
Kediri, 13 Oktober 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.