Gila Harta

“Mencuri rezeki orang lain itu berarti kita mengambil rezeki anak cucu sendiri, dan mereka itu yang bakal menanggung hutang kita.” –Mas Redjo
“Akar dari sifat rakus dan tamak itu, karena kita gila uang,” tegas Mbah Kakung selalu mengingatkan kami, anak-anaknya agar kuat iman untuk selalu bersyukur.
Hidup jujur dan benar adalah harta surgawi dan abadi. Sedang harta duniawi itu mudah hilang dan sirna.
Mbah Kakung mengingatkan saya dengan pekerja kebun anggur yang tamak. Karena ingin menguasai kebun itu, mereka tega membunuh utusan Tuannya dan ahli warisnya (Mat 21: 33-44).
Kisah pekerja kebun anggur itu lalu dikaitkan dengan realita sekarang: banyak orang yang bangga berbuat curang dengan korupsi berjamaah dan tanpa malu, meski terkena OTT. Miris dan ironis!
Disadari atau tidak, hukum sebab akibat; karma itu menyatu dengan kita, bahwa orang yang menanam itu bakal memanen.
Faktanya, banyak orang bersikap tidak peduli, masa bodoh, dan lupa diri. Silau dengan gengsi, validasi, dan pengakuan kosong, membuat mereka menghalalkan segala macam cara untuk memanjakan diri dengan kenikmatan daging yang sesaat.
Untuk menyikapi “zaman edan, nek ora melu edan ora keduman” itu Mbah Kakung mengajak kami sadar diri untuk selalu bersyukur. Tidak ikut-ikutan dan hanyut. Tapi untuk hidup jujur dan benar. Meski hal itu dijalaninya berat, tapi nikmat dan kami bakal selamat dunia akherat. Sebaliknya orang yang curang dan keturunannya itu bakal menderita, karena di penjara aib dan sengsara.
“Jika tidak mampu memperbaiki keadaan, lebih bijak kita diam dan tidak gaduh. Kita sadar diri dan doa ikhlas agar mereka insyaf. Sehingga hidup kita pun tenang,” adalah nasihat bijak Mbah Kakung agar kami tetap teguh dalam iman dan rendah hati.
Sejatinya hidup ini untuk berhikmat agar jiwa kita tidak hilang tersesat, tapi kembali kepada Sang Pencipta!
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.