Refleksi Filosofis-Antropologis:
Andalah si Batu Asah Hidup

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Besi menajamkan besi,
manusia menajamkan sesamanya”
(Amsal 27: 17)

Jangan-jangan Andalah si Batu Asah itu?

  1. Secara Filosofis: Hakikat Dasar Batu Asah

Seceper Batu Asah Memiliki 3 Buah Ciri Filosofis:

  • a. Ia tidak pernah dihargai. Pernahkah manusia mengisahkan tentang hebatnya batu asah? Pernahkah Anda memajamkan seceper batu asah di dalam lemari kaca hias di pendopo rumahmu? Bukankah sungguh ironis, karena betapa seringnya manusia memuji dan mencari sebilah pisau yang tajam?
  • b. Ia harus kasar
    Tidak pernah sebuah batu asah itu licin dan halus bentuk serta tampangnya. Jika demikian, ia tak akan mampu menajamkan sebilah pisau. Batu asah, sejatinya harus rela digesek-gesek, dilukai, dan menerima perlakuan kasar dari manusia.
  • c. Ia semakin habis
    Ia lambat laun akan terkikis, menipis, bahkan dibuang, dan dianggap sudah tidak berguna lagi. Pernahkan manusia membanggakan sebuah batu asah?

Demikian pula dengan Anda selaku seorang pengabdi sejati yang telah mempersembahkan diri secara total. Anda tidak pernah tampil di podium, Anda hanya tekun berkarya dari balik layar kehidupan.

    1. Secara Antropologis: Manusia sebagai Pengasah

Terdapat dua jenis manusia:

  • Ada Manusia Pisau: yang biasanya sangat doyan untuk tampil, sangat cekatan dan biasanya disanjung puja, serta selalu tampil cemerlang.
  • Ada Manusia Batu Asah: Dia yang selalu merasa nyaman di sudut kumuh dan di belakang layar. Dia tidak akan pernah disapa orang. Namun, jika tanpa dia, bukankah semua pisau pun akan tumpul?

Ketahui dan sadarilah, bahwa krisis besar dan berkepanjangan yang kini melanda umat manusia, justru karena semua orang selalu ingin menjadi sebilah pisau tajam? Bukankah pula, bahwa semua orang ingin jadi tenar serta viral?

Camkan ini! Kekudusan dan kesalehan seorang hamba sejati, seperti Mother Theresa, misalnya, karena kesalehan batu asah? “Biarlah Dia semakin besar, aku semakin kecil,” demikian Yohanes Pembaptis.

Pernahkah seceper batu asah menyentuh bahumu sambil berkata, “Ayo, pakaikan aku, gosokkan dirimu pada kehebatanku, agar kamu jadi tenar dan viral?”

    1. Penutup: Berkah Batu Asah

“Tuhan, sekalipun aku hanyalah sepotong batu asah yang hitam, kotor, kasar, dan terbuang. Tapi izinkanlah aku untuk boleh berbangga, karena justru lewat aku, banyak pisau menjadi tajam, berguna, dan disukai oleh banyak orang.”

“Biarlah aku boleh menjadi seceper batu asah kasar, hitam, dan tak dihiraukan orang di sepanjang hidupku.”

“Semoga, Andalah Batu Asah dalam hidup yang kian sekarat ini.”

Kediri, 10 Oktober 2026