Beriman bukan Berarti Menyuap Allah

“Orang yang benar akan hidup oleh iman” (Gal 3: 11b).

Banyak orang masih berdoa setiap hari, tapi hatinya tetap terasa jauh dari Tuhan. Bibir mengucapkan doa, sementara pikiran dan hati ini mudah melayang ke berbagai hal: kelelahan, kekhawatiran, luka lama, dan persoalan yang belum terselesaikan. Manusia modern terbiasa berbicara, tapi perlahan kehilangan ruang untuk berdiam tenang di hadapan Allah.

Rasul Paulus menegaskan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Hidup oleh iman berarti menjadikan Allah sebagai pusat hidup, bukan sekadar hadir dalam doa, melainkan sungguh percaya dan berserah dalam setiap keadaan hidup.

Doa sejati bukan pertama-tama banyaknya kata atau permohonan, melainkan sikap hati yang percaya, bahwa kita sungguh diterima dan dipimpin oleh Allah.

Dalam doa, manusia belajar untuk hidup oleh iman: percaya, ketika belum mengerti; berserah, ketika tidak berdaya; dan tetap setia, ketika jalan terasa gelap. Barangkali, kemiskinan terdalam manusia itu bukan kekurangan materi, melainkan hidup tanpa kepercayaan yang utuh kepada Allah. Sesungguhnya doa adalah jalan untuk kembali hidup oleh iman, hidup yang bersandar penuh pada Tuhan, setiap hari dan dalam segala keadaan.

Fr. Primus Gervasius, CSE

Jumat, 09 Oktober 2026
Gal 3: 7-14; Mzm 111: 1-6; Luk 11: 15-26

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com