Jangan Sia-siakan Kepercayaan yang Sudah Diberikan

Di sebuah rumah sedang dicat kembali dinding-dindingnya. Sehingga semua benda yang bergantung itu harus diturunkan dan disimpan sementara.

Anak sulung yang berusia 5 tahun, Aris berbicara dan mengingatkan Mamanya, katanya: “Saya ingin supaya begitu pekerjaan itu selesai, Tuhan Yesus segera kembali bergantung di tempatnya. Saya sedih, kalau tidak menemukan Yesus bergantung di tempat-Nya.”

Keinginan Aris kecil itu pantas mengantar kita untuk merenungkan kesetiaan menjalankan kehendak Tuhan. Bagi orang beriman, Tuhan Yesus adalah model utama kita dalam hal kesetiaan sampai tuntas. Pada waktu Yesus hendak menghembuskan nafas terakhir di atas kayu salib, Ia mengucapkan, “Sudah selesai.” Yesus sungguh menjalankan kepercayaan Bapa-Nya sampai tuntas. Ia wafat di salib yang hina.

Aris ingin agar Yesus tetap bergantung di salib. Yesus tidak bisa diturunkan dan kayu salib itu jangan dibiarkan kosong tanpa ada tubuh-Nya. Tuhan yang bergantung di salib selalu mengingatkan kita untuk konsisten dan setia dengan kewajiban kita menjalankan kehendak Allah sampai tuntas. Caranya ialah, kita tidak menyia-nyiakan kepercayaan dan panggilan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita.

Perumpamaan di dalam Injil, menggambarkan kepercayaan Tuhan Allah yang ditanggapi berbeda-beda oleh mereka yang mendapat kepercayaan. Orang jahat pasti menyalahgunakan kepercayaan itu. Sedang mereka yang mengasihi dan taat kepada Tuhan tentu menggunakan hal itu sebaik-baiknya. Semua utusan Tuhan sebelum Yesus, membuktikan, bahwa mereka menggunakan kepercayaan itu. Lalu datanglah Yesus ke dunia untuk menjalankan kepercayaan Bapa. Kita semua yang mengikuti Kristus juga memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kepercayaan yang diberikan oleh Yesus sebelum Ia naik ke Surga.

Kitab Nabi Yesaya mengingatkan kita, bahwa orang yang menyia-nyiakan kepercayaan Tuhan untuk berbuat baik dan bersaksi tentang kemuliaan-Nya akan disingkirkan dari hadirat-Nya.

Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi berkata, bahwa ia adalah contoh nyata dalam menjalankan kepercayaan Tuhan, sehingga kita dinasihatkan untuk melihat dan melakukan seperti dirinya. Intinya, pesan firman Tuhan ialah agar kita tidak menyia-nyiakan kepercayaan Tuhan.

“Ya, Tuhan, baruilah semangat kami dalam ketekunan dan kesetiaan terhadap kehendak-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)