Hidup sebagai Persembahan Kasih kepada Allah

“Jangan bertanya yang diberikan Allah pada kita, tapi bertanya, buah apa yang dikehendaki Allah untuk kita persembahkan kepada-Nya.”

Allah yang Maha Rahim,
Engkau menanam kebun anggur dengan penuh kasih. Engkau mempersiapkan tanahnya, menanam pokok anggur pilihan, menjaganya, dan mempercayakannya kepada para penggarap agar menghasilkan buah. Tapi mereka lupa satu hal: kebun itu bukan milik mereka.

Tuhan, betapa mudahnya aku melakukan hal yang sama. Aku menerima hidup, waktu, talenta, pekerjaan, keluarga, relasi, dan segala yang kumiliki sebagai anugerah-Mu, tapi perlahan aku mulai menganggap semuanya sebagai milikku sendiri. Padahal, aku bukan pemilik. Aku hanyalah pengelola.

Dalam Injil, para penggarap menolak para utusan-Mu dan bahkan membunuh Putra-Mu sendiri. Namun batu yang ditolak justru menjadi batu penjuru. Penolakan manusia tidak menggagalkan rencana keselamatan-Mu.

Bapa, ketika kami menjauh dari-Mu, Engkau tidak meninggalkan kami. Engkau terus memanggil kami kembali. Kerahiman-Mu selalu memberi kami kesempatan untuk berubah dan menghasilkan buah.

Aku bertanya kepada diriku sendiri:
“Buah apakah yang sedang kupersembahkan kepada-Mu?”

Apakah hidupku menghasilkan kasih, pengampunan, keadilan, damai, kemurahan hati, dan kesetiaan?

Ataukah aku masih ingin menyimpan semuanya untuk diriku sendiri?

Melalui Santo Paulus, Engkau mengajari kami untuk tidak dikuasai kecemasan, tapi membawa segala sesuatu kepada-Mu dalam doa dan ucapan syukur. Bapa, ajarlah kami percaya.

Segala yang Engkau percayakan kepadaku, pakailah untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan-Mu. Hidupku bukanlah tentang diriku. Hidupku adalah milik-Mu.

Semoga aku tidak pernah lupa: aku bukan pemilik kebun anggur ini. Aku adalah anak-Mu yang Engkau kasihi, yang dipercaya untuk merawatnya dan menghasilkan buah.

Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)