Belajar dari Burung

“Ranting boleh patah, tapi burung tidak berhenti terbang.” -Rio, Scj.

Sambil menikmati kopi terlihat burung Gereja hinggap pada sebuah ranting, tapi rantingnya tiba-tiba patah. Ia sedikit kaget lalu melanjutkan terbang dan hinggap pada dahan lain. Sebuah pesan sederhana untuk hidup kita.

Dulu saya berpikir, orang baik akan selalu diperlakukan dengan baik, tapi ternyata: kita sudah tulus, tapi disalahpahami. Sudah membantu, tapi justru dilupakan. Sudah menjaga perasaan orang, tapi perasaan kita tidak dipedulikan. Sakitnya tuh di sini…

Pagi ini burung Gereja mengajari kita. Meski ranting itu tiba-tiba patah, tapi burung itu tidak berhenti terbang. Ia juga tidak memutuskan mulai sekarang untuk tidak akan pernah hinggap lagi. Ia tidak sepenuhnya mengandalkan ranting, ia tahu l masih mempunyai sayap. Ranting boleh patah, tapi ia tidak berhenti, ia tidak harus kehilangan keberanian untuk terbang.

Begitu juga hidup kita. Ada orang yang kita percaya, ternyata mengecewakan. Ada kebaikan yang kita berikan, ternyata tidak dibalas dengan kebaikan. Tidak apa-apa, santai saja. Jangan sampai semua pengalaman buruk itu mengubah siapa diri kita. Tetaplah menjadi orang baik, belajarlah memilih ranting yang tepat untuk kita hinggap. Baik bukan berarti harus percaya kepada semua orang. Tulus bukan berarti tidak mempunyai batas. Jika suatu hari ranting itu patah, jangan berhenti terbang. Tetap baik dan tulus, tapi kali ini lebih bijak memilih tempat untuk menitipkan kepercayaan kita.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj