Sang Pemahat

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Justru batu seperti itulah yang paling Aku cintai,” bisik-Nya
(Suara Sang Kebenaran).

Di sebuah tempat, hiduplah seorang Pemahat tua nan arif. Orang-orang datang kepadanya dengan membawa batu-batu besar untuk dipahat.

Aneka Permohonan

“Tuan, aku ingin Tuan memahat batuku ini menjadi seekor singa agar orang-orang takut kepadaku.”

“Tuan, pahatlah batuku ini menjadi sebuah lumbung agar aku menjadi orang yang berharta.”

“Tuan, aku mohon pahatlah batuku ini menjadi sebuah kursi emas agar aku bisa menjualnya dengan harga yang paling mahal.”

Pemahat nan arifin itu hanya angguk-angguk saja dan tidak segera memahatnya.

Ia memandang dengan cermat batu-batu itu berhari-hari lamanya, merabanya, dan bahkan seolah mau mendengarnya.

Ia lalu mulai memahatnya, tapi bukan dimulai dari luar, tapi justru dari dalam, demi membebaskan sesuatu yang memang sudah ada di dalam batu itu.

Suatu hari, seorang Pemuda membawa sebuah batu yang sangat jelek. Batu itu retak-tetak, dan sudah berlumut. Pemuda itu duduk dan mulai menangis.

“Guru, hatiku sudah seperti batu ini. Sudah retak, karena terus dikhianati, jelek karena iri hati, keras karena penderitaanku. Tidak ada orang yang mau menjadikannya lebih indah. Ya, buang sajalah Tuan, pintanya.

Pemahat nan arifin itu hanya tersenyum. Dengan gerakan spontan ia memeluk dengan eratnya sebongkah batu nan jelek itu.

“Justru batu seperti inilah yang paling Aku cintai,” bisik-Nya.

Bertahun-tahun Ia telah memahat. Aneh bin ajaib, justru bukan dengan palu keras, tapi dengan pahatan kecil, kesabaran, dan sesekali Pemuda malang itu malah marah, “Sakit Guru, hentikan!”

Pemahat arif itu tidak mempedulikannya. Dia tahu, jika berhenti di tengah proses pemahatan, maka ia akan tetap menjadi sebuah batu biasa yang retak dan berlumut.

Sampai di suatu pagi, Pemuda itu bercermin pada segenangan air. Ia tidak melihat batu jelek itu lagi. Kini di dalam batu itu terpahat bukan seekor singa, bukan sebuah lumbung, dan bukan pula sebuah kursi emas, melainkan justru sekeping hati yang berlubang.

“Guru, hati ini koq berlubang?” Pemahat itu menjawab sambil mengelap debu dari tangan-Nya yang sudah penuh luka.

“Ya, supaya cinta-Ku bisa menetap di dalamnya. Juga dari lubang ini pula, cintamu bisa mengalir ke luar untuk orang-orang lain. Ketahuilah, bahwa batu yang mulus tidak butuh Aku. Sedangkan batu yang retak, itulah yang Aku pahat menjadi sebuah bejana cinta.”

Betapa kita pun sering mengira, bahwa Tuhan itu seperti kita yang ingin hati yang mulus, prestasi yang gemilang, dan hidup yang tanpa cacat cela (retak). Tidak.

Padahal Dialah Sang Pemahat Cinta sejati. Ia tidak membuang batu nan retak dan berlumut itu. Ia justru akan memilihmu.

Ya, ucapan INRI dalam hidupmu, setiap RIP yang engkau tangisi, juga setiap Hodie mihi, cras tibi yang membuatmu takut, itulah pahatan-pahatan kecil-Nya.

Ia tidak sedang menghancurkanmu. Janganlah engkau meminta-Nya untuk menghentikan pahatan-Nya, karena engkau merasa sakit.

“… biarlah Ia akan terus memahat hidupmu!”

Kediri, 3 Oktober 2026