Anomali Luka dan Paradoks Darah

Mosaik Serpihan Kelana -61
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Naluri semesta menoreh luka pada rasa dan raga
Takdir jagat raya teteskan darah pada nurani dan jiwa
Aku, engkau, dia hanya ada dan terjadi
Kita dilukis jemari langit pada rahim bumi
Kita datang dalam ziarah tanya tak bertepi
Seorang gadis membuka lembaran baru
menjelma menjadi Ibuku, Ibumu, Ibunya
Tak ada yang jatuh dari angkasa
untuk menjelma menjadi jiwa raga
lalu berkembang biak tanpa luka dan darah di panggung dunia
Kita semua hanya ada dan menjadi
tak pernah meminta dan tak mungkin memahami semuanya

Ibuku, Ibumu, Ibu semua manusia
menulis pada lembaran angkasa
dengan percikan cahaya mentari dan gulita malam
“Luka dan darah kubawa berlari
menyulam waktu agar hasilkan sosok wajah
menenun ruang untuk mendapatkan campuran warna
Huruf dan angka aku sematkan pada jiwa raga
agar bisa menjelma menjadi mantra doa”
Ternyata tanya menjadi energi dan inspirasi
Karena anomali dan paradoks adalah misteri tak bertepi dan keajaiban abadi
untuk kepapaan pikiran insani di hadapan kreasi Ilahi

Dalam gelora luka dan samudra darah
jiwa raga anak manusia didandani keajaiban semesta
janin setiap insan dihiasi isi jagat raya
Angin dihembuskan dalam luka dan darah
Air dan api bercampur silih berganti
Logam, kayu, batu dan debu tanah merangkai tulang dan daging
Mantra sakti tumbuhan dan doa ajaib margasatwa merajut rasa nurani sanubari
Setiap anak manusia dimeteraikan dengan amanah Ilahi
untu menjadi apa dan siapa di bumi
Jagat raya semesta ternyata dipatri dalam jiwa raga
Entah dimaknai dengan amarah menggugat
Entah diterima dengan cinta dan syukur

Revolusi alam jagat semesta
menghadirkan setiap anak manusia dengan luka dan darah
Kita berpindah dari rahim ke panggung dunia dalam luka dan darah
Entah karena pada mulanya didaulat dengan luka dan darah
Entah karena misteri dan keajaiban mantra jagat dan doa semesta
Entah karena jiwa raga hanya bisa hadir dengan luka dan darah
Entah karena kehidupan adalah ziarah luka dan kelana darah
Entah karena luka itu tanya abadi dan darah itu damba tak bertepi
Dan
Sang Ilahi tetap Maha Misteri, Raja Anomali dan Ratu Paradoks
bagi kemiskinan hakiki dan keterbatasan kodrati manusia