Teguh dalam Iman

Nabi Ayub yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Sayangnya, orang yang begitu baik ini mendapat musibah. Ia kehilangan hartanya, bahkan kehilangan anak-anak yang dicintainya.

Apakah ini kutukan bagi Ayub?

Ayub justru melihat semua itu sebagai cobaan Tuhan agar ia lebih teguh dalam iman. Kisah tentang Ayub yang diuji dalam penderitaan yang hebat, tapi tetap bertahan dalam iman kepada Tuhan menunjukkan kesejatian iman yang nyata. Ketika kita tetap setia kepada Tuhan, apa pun situasi yang dialami, baik derita maupun sukacita. Ayub bersikap bebas terhadap semua situasi itu. Bagi dia, semua itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ia berpasrah kepada Allah seperti seorang anak kecil yang berpasrah kepada Ibunya. Sikap berpasrah kepada Allah inilah yang diminta dari kita oleh Tuhan Yesus.

Sebagai murid Kristus, kita perlu belajar dari Ayub tentang kepasrahan pada Tuhan. Melihat semua yang di sekitar kita sebagai pemberian Tuhan yang pada saatnya akan kembali kepada-Nya. Hal ini akan membantu kita untuk tetap mengimani Dia, baik dalam suka maupun derita. Semua yang di sekitar kita hendaknya dilihat sebagai sarana yang membantu kita untuk lebih beriman kepada Allah. Apa pun yang kita miliki hendaknya digunakan untuk membantu kita mengungkapkan iman kepada Tuhan.

“Ya, Tuhan, bantulah kami agar selalu mampu mengandalkan Engkau dalam hidup ini dan bersikap rendah hati di hadapan-Mu. Amin.”

Ziarah Batin