Mencintai Tuhan dengan Rendah Hati

Dalam berbagai hal, Allah telah menunjukkan kepada kita pentingnya bersikap rendah hati, baik kepada manusia maupun terutama kepada Allah. Allah melihat seseorang bukan semata-mata dari perbuatannya, melainkan juga sikap hatinya. Bagi Allah, lebih berkenan seorang pendosa yang bertobat dengan kesungguh hati daripada orang yang seolah-olah berlaku benar, tapi tidak hidup dalam pertobatan.

Anak yang satu telah menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Bapa. Dia menyadari, dengan menjawab tidak pada kehendak Bapa berarti telah melakukan hal yang membuat dia jauh dari Bapa. Ia juga menyadari, bahwa hal yang dia lakukan itu adalah melawan Bapa. Dengan demikian, dia telah berdosa yang menyebabkannya tidak layak disebut anak Bapa. Sebab sikap melawan Bapa tidak akan membawa dia kepada kehidupan. Sebaliknya, justru mengantar dia kepada bahaya kematian. Bagi dia, hanya dengan melaksanakan kehendak Bapa, maka dia dapat menyelamatkan dirinya, yang dapat membawa dia kepada kehidupan. Ia sadar dan bertobat, lalu melaksanakan kehendak Bapanya. Kerendahan hati memampukan dia untuk bertobat, lebih terbuka, dan taat kepada kehendak Allah.

Sebagai anak Allah, kita diminta untuk rendah hati. Santo Paulus menegaskan, bahwa hanya dengan kerendahan hati kita dapat mencintai Tuhan dan sesama. Pertobatan adalah salah satu wujud dari cinta kepada Tuhan dan sesama.

Nabi Yehezkiel mengatakan, bahwa pertobatan mendatangkan rahmat kehidupan, membuat kita pasti hidup. Yesus yang adalah Putra Allah telah menunjukkan kepada kita jalan kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa-Nya. Maka, kita yang berdosa ini hendaknya mengikuti teladan-Nya, taat, dan rendah hati mengakui dosa kita, serta berubah menjadi lebih baik di hadapan Allah.

“Ya, Tuhan, ubahlah hati kami agar tidak hanya berkata-kata, tapi juga melakukan kehendak-Mu. Pimpinlah kami menuju jalan pertobatan yang membawa kami kepada sukacita surgawi. Amin.”

Ziarah Batin