Belas Kasih bagi Hati yang Bertobat

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal itu akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21: 31b).
Pada zaman Yesus, para pemungut cukai dan perempuan sundal dianggap sebagai orang-orang yang najis, gagal secara moral, dan tidak layak berada dekat dengan Allah. Tapi menariknya, justru kepada merekalah Yesus menjanjikan Kerajaan Allah. Yesus tidak bermaksud memuliakan dosa, melainkan hendak menyingkapkan suatu kebenaran yang lebih mendalam: Allah lebih mudah menjangkau hati yang sadar akan dosanya daripada hati yang merasa dirinya paling suci dan benar.
Orang yang menyadari dirinya berdosa masih dapat menangis, memohon ampun, dan bertobat. Mereka menyadari, bahwa hidup mereka sungguh membutuhkan belas kasih Allah. Sebaliknya, Yesus memberikan kritik kepada mereka yang tampak sangat rohani, tetapi merasa tidak membutuhkan pertobatan. Ia mengingatkan kita bahwa penghalang terbesar untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sering kali bukanlah dosa yang tampak, melainkan kesombongan rohani yang tersembunyi, yaitu sikap merasa diri sudah benar dan tidak berdosa.
Dengan mengakui dosa dan kebutuhan akan pengampunan, hati kita terbuka bagi rahmat Allah dan jalan menuju Kerajaan-Nya.
Marilah kita selalu rendah hati di hadapan Tuhan dan tekun bertobat.
Rm. Eusebius Paulus, CSE
Minggu, 27 September 2026
Yeh 18: 25-28 Mzm 25: 4-9 Flp 2: 1-11 (Panjang) atau Flp 2: 1-5 (singkat) Mat 21: 28-32
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.