Refleksi Filosofis:
Ujung Pena Keabadian

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Tuhan tidak akan mau bertanya, “Berapa usia hidupmu, tapi apa yang telah kau tulis dengan ujung pena hidupmu?”
(Didaktika Hidup Sejati)
Bukankah ‘ujung pena’ itu sangat kecil, bahkan hanyalah setitik runcing besi, mirip seujung bulu?
Justru dari hal yang sangat kecil ini, manusia mencoba menaklukan yang tak mungkin dapat ditaklukan, ialah sang waktu.
Bukankah kita sadar, bahwa semua itu akan habis? Paling lambat satu atau dua generasi, Anda masih diingat orang, dan selebihnya tidak seorang pun akan mengenang Anda lagi. Bukankah ‘ingatan’ manusia itu memang sangat terbatas; makin lama ia akan mengecil dan mengerucut, lalu akan lenyap di sepanjang masa.
Manusia pun Menulis
Menulis itu adalah sebuah jalan untuk mengabadikan jejak langkah eksistensi Anda, bahwa Anda pernah melintasi pasir pantai kehidupan ini (Homo viator mundi).
Santo Petrus pernah menulis kepada umat di Pontus dan Galatia melalui Silwanus. Sesungguhnya, ia tidak sedang menulis sepucuk surat, tapi ia sedang menitipkan denyut nafasnya pada ujung pena keabadian.
Ia sangat yakin, bahwa sekalipun tubuh jasmaninya ini akan disalibkan (terbalik), tapi denyut nurani ujung penanya akan terus hidup bagi dunia. Hal itu terjelma, hingga kini, karena hasil ujung pena Santo Petrus masih tertulis indah di dalam Alkitab.
Apa yang sesungguhnya Ada dan Terjadi di sini?
Ya, ini pun sebagai sebuah paradoks. Karena bukankah mata tajam pedang telah memenggal kepala para Martir, tapi ia tidak sanggup memenggal kalimat-kalimat yang telah ditulis oleh Martir itu (sejarah Kekristenan di Romawi membuktikan, Kaiser memang sanggup membakar kota Roma, tapi ia tidak sanggup membakar ide yang sudah dititipkan pada perkamen, bukan?)
Sesungguhnya ujung pena itu bukan sekadar alat, melainkan sebagai ‘jembatan’. Jembatan antara kefanaan dan kebakaan. Antara sendu passio yang mengharukan hati dengan bahana gloria nan abadi.
Sesungguhnya, setiap kali Anda menuliskan sesuatu tentang kebenaran, entah itu dalam buku harian, status WA, atau sekerat doa, itu berarti Anda telah menuliskan sebuah keabadian.
Anda dan saya, kita pun adalah Martir-martir di abad ini dan di sini. Ingat dan camkan, bahwa Tuhan tidak akan pernah bertanya, seberapa panjangnya usia hidup Anda. Tapi yakinlah, bahwa Ia akan bertanya, “Apa yang telah Anda tulis dengan ujung pena hidupmu demi suatu keabadian?”
Kediri, 26 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.