Segala Sesuatu Ada Waktunya

Kita dibentuk oleh pemahaman umum, bahwa waktu menentukan nasib hidup kita. Keyakinan ini perlu diperjelas supaya kita tidak jatuh dalam pemahaman yang sederhana. Akibatnya, kecenderungan kita ialah mempersalahkan masa lalu yang tidak memberikan cerita yang mengesankan tentang kita. Waktu hanya dilihat sebagai sebuah elemen yang berdiri sendiri, dan tidak punya kaitan dengan subjek pencipta atau pemilik waktu.

Waktu yang memutuskan nasib hidup manusia dapat juga dipahami seperti roda yang berputar. Saat berada di putaran bawah, kita memandangnya sebagai periode kemalangan dan penderitaan. Sebaliknya saat berada di putaran atas, kita memandangnya sebagai kesenangan dan keberuntungan. Kehidupan sebagai sebuah roda yang berputar umumnya dipahami sebagai kenyataan yang diterima sebagai hukum alam. Resikonya tetap sama dengan pandangan tentang waktu yang berganti. Pada saatnya manusia akan menyesali sejarahnya, ketika roda kehidupan itu berputar di bagian bawahnya.

Untuk mengatasi bahaya melihat waktu sebagai satu elemen semata, kita perlu melihatnya sebagai Tuhan sendiri yang menyelenggarakan hidup kita di dalam waktu. Dia adalah sumber waktu. Dia memberikan setiap orang waktu sehari 24 jam dalam seluruh hidupnya. Dengan cara memandang waktu seperti ini, kita dapat menghindari kecenderungan mempersalahkan waktu atau sejarah. Bila kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan atas semua peristiwa hidup, baik menyenangkan maupun yang menyakitkan, sikap kita adalah bukan mempersalahkan masa lalu, melainkan melihatnya dari kaca mata iman. Tuhan yang mengontrol dan mengarahkan hidup kita.

Kitab Pengkotbah menggambarkan hidup manusia yang rapuh dan sementara dengan memberikan batasan waktu. Segala sesuatu ada waktunya. Sesuatu ada pada saatnya, dan pada saat yang lain sesuatu itu menghilang. Gambaran ini sebenarnya ingin mengajarkan kita untuk menghargai waktu yang disediakan bagi setiap orang. Berapa pun lama waktunya, pasti berisi suatu peristiwa kehidupan yang mempunyai makna. Kita perlu menanggapi Pengkotbah yang mengatakan sia-sia hidup ini, dengan sebuah persembahan hidup yang memiliki makna dari saat ke saat.

Untuk waktu sekarang atau saat ini, kita perlu menikmatinya bersama dengan sesama dalam penyelenggaraan Tuhan, dan dikuatkan oleh iman kita kepada Yesus Kristus yang datang dari Allah. Pengakuan iman ini adalah prinsip hidup kita.

“Ya, Tuhan, semoga kami mengalami setiap waktu hidup kami sebagai pernyataan diri-Mu bagi kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)