Kelana Sunyi Kemanusiaan

Mosaik Serpihan Kelana -55
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Kemanusiaan itu paradoks fakta dan utopi
Setiap generasi terlahir atas nama kemanusiaan
sambil terpenjara dalam kata dan angka
sesuai adat budaya dan agamanya
Setiap pribadi anak cucu hadir dalam nama peradaban
tetapi dijerat tradisi kreasi pendahulu
sambil dipaksa keharusan berkelana menciptakan sejarahnya
Di tengah riuh gelora kehidupan
setiap orang memeluk sunyi sepi mencari jawaban tanya
Dalam gemerlap kemajuan dan banjir informasi
setiap orang harus memilih dan membuat keputusannya
Apakah harus terus berkelana galau
ataukah berontak dan tak peduli pada semuanya

Kebenaran dan harkat martabat
dimeteraikan dalam jiwa raga oleh semesta
diajarkan dari kearifan leluhur adat budaya
ditanamkan dalam agama sebagai pegangan iman
Tetapi…
fakta pengalaman menulis kenyataan pedih yang berbeda
Harkat martabat sepertinya milik segelintir orang yang mempunyai harta, kuasa dan senjata
Kebenaran sering terlunta penuh luka dan berdarah
Nilai luhur adat budaya diam tak berkutik di hadapan buldozer modal dan kekuatan senjata
Mutiara dan berlian iman sering tercampak seperti sampah
di jalanan, diasingkan dan terbuang
Bahkan Sang Maha Ilahi pun diklaim bukan lagi milik semua orang miskin papa tak berdaya

Dari gedung mewah pencakar langit di kota modern
kasih sayang dan kebaikan terlempar jatuh tak berdaya memeluk asap polusi dan deru debu jalanan
Dari kantor mewah para pejabat negara
keadilan dan kejujuran sering terpisah jarak antara kata dan fakta
biasanya ada sandiwara tentang angka di kertas kebijakan dan kenyataan bagi hak rakyat
karena itu rahasia negara dan bukan hak rakyat jelata
Tujuan kemerdekaan bangsa dan nasib rakyat
sering dicakar jemari perampok dan dilukai tangan para koruptor
Syair balada menjadi suara nasib rakyat yang terbungkam
Berkelana tanpa arah entah sampai kapan usai
Kemanusiaan dan harkat martabat hanya mimpi masyarakat terlunta

Kemanusiaan terkapar lara di kampung udik dan wilayah miskin tertinggal
padahal sumber kekayaan alam warisan leluhurnya terus dikuras atas nama pembangunan bangsa
Harkat martabat setiap pribadi telah diganti dengan kata jabatan, kuasa, harta dan angka uang
maka yang tersenyum adalah mereka yang mampu menjilat dan bertepuk tangan pada para koruptor serta pelaku kejahatan publik
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah tulisan kalimat yang biasa diperdengarkan saat upacara
tetapi bukan untuk menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara
Paradoks kata dan fakta menjadi penunjuk arah kelana sunyi kemanusiaan
Sering harkat martabat tidak dijumpai di tempat ritual sakral dan ibadah keagamaan

Dalam jalan kelana sunyi kemanusian
mayoritas pribadi yang dibelenggu lara nestapa
menemukan sejuta tanya adalah jawaban pasti
Ketakpastian makna hakiki adalah desah nafas yang tersengal
Fakta lara nasib ketakberdayaan adalah desir darah yang merana
Bahkan dalam adat budaya dan agama pun aroma kekuasaan, harta kekayaan dan kelas sosial makin merasuk
Ritual sakral dan ayat suci pun menjadi alat penindasan dan penjajahan
Mungkin zaman memang telah berkreasi dan berinovasi
dengan wajah baru yang semakin bergengsi
Sosok wajah kemanusiaan adalah kelana sunyi dalam gulita tak bertepi