Refleksi Filosofis:
Bara Api Pengharapan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan
dipadamkan”
(Yesaya 42: 3)
- Apa itu Bara?
Bara itu bukanlah api!
Jika api itu menyala, membakar, bergejolak dan jelas dilihat orang, tapi tidak demikian dengan bara.
Bara itu diam, bahkan hampir mati. Dia ditutupi debu abu nan kelam. Banyak orang menduga, bahwa bara itu telah padam, padahal tidak.
Ternyata di dalam tumpukan abu mengelam itu ada nyala sekarat, ia seolah sedang tahan nafas. Tapi ia tidak berteriak, dan justru tidak mau menyerah.
Ya, itulah secarik pengharapan. Pengharapan, dan bukan optimisme. Jika optimisme berkata, “Ah, hari ini pasti cerah, karena itu sesuai dengan ramalan.”
Pengharapan justru akan berkata, “Sekalipun hari ini akan ada badai, tapi aku akan tetap pergi, karena ada seseorang yang sedang menungguku.”
Ya, optimisme itu butuh sebuah alasan pendukung, tapi pengharapan tidak. Ia adalah keberanian untuk tetap hangat di bawah tumpukan abu.
- Dua Musuh Bebuyutan Bara
Secara filosofis, manusia selalu digoda dengan dua cara untuk manamatkan baranya.
a. Musuh pertama: Si Angin Kencang Sinisme
Anda mendengar ucapan, “Sudahlah, dunia ini memang buruk. Kita semua akan mati, mengapa Anda mau repot-repot? Logika ini memang benar, tapi butuh diri secara eksistensi.
b. Musuh kedua: Air Keputusasaan
Anda mendengar tuturan, “Aku ini jahat pendosa. Aku sudah tidak pantas lagi untuk hidup.”
Ingatlah, inilah sebuah tuturan palsu. Mengapa? Karena ia telah mematikan bara dengan cara menyiramnya.
Padahal tugas kita bukan untuk menjadi api besar. Ingat, tugas kita hanya menjaga agar bara itu jangan padam.
Ingatlah, Tuhan tidak meminta nyala yang besar dari Anda, Ia hanya meminta sumbu yang masih mau berasap.
- Bagaimana Menjaga Bara itu?
Hanya lewat ‘tiga’ laku kecil.
a. Tiuplah perlahan dengan doa. Anda tidak perlu menghamburkan kata, tapi cukuplah dengan hembusan halus.
b. Janganlah terus mengais abunya, bukankah ada orang yang selalu mau memeriksa lukanya. “Apakah aku ini layak diampuni?” “Apakah aku sudah suci?” Ingatlah, ketika Anda terus mengais-ngaisnya, maka akan semakin dingin baranya.
Nah, biarkan kasih Allah yang bekerja atasnya.
c. Dekatkan bara kecilmu pada bara lain, ingat prinsip alam, jika satu bara sepi sendirian, maka ia akan mati kedinginan. Jika ada sepuluh bara didekatkan, maka nyalalah perapian itu.
Malang, 23 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.