Kesederhanaan adalah Kekuatan

Yesus menugaskan murid-murid-Nya untuk melakukan pelayanan kepada orang banyak tanpa dilengkapi fasilitas dan materi pendukung yang memadai. Mereka tidak mengeluh dan protes, tapi menjalankan semua itu dengan senang hati. Mereka menjalankan dalam semangat kesederhanaan dan sumber daya yang terbatas. Hal itu adalah sebuah kekuatan. Mereka tidak khawatir, karena Yesus menemani.
Model pelayanan yang sederhana ini berlanjut sepanjang sejarah Gereja. Misalnya tahun 1930-1960-an seorang melakukan pelayanan penuh semangat di Italia, khususnya di daerah selatan Roma, yaitu San Giovanni Rotonda. Dia adalah Santo Padre Pio yang dikenal sebagai seorang mistik, pelayan banyak orang yang mencari pembaruan diri, dan memberikan diri seutuhnya kepada Kristus. Kesederhanaan dan ketulusan hatinya itu dibayar oleh Yesus dengan stigmata pada tubuhnya.
“Sederhana itu indah,” kata orang. Sederhana adalah kebahagiaan, menguatkan, dan hidup sederhana itu mulia.
Hidup sederhana bukan terkait dengan miskin dan melarat, juga bukan soal tidak berbuat atau tidak menginginkan apa-apa. Hidup sederhana itu dipandang indah, bahagia dan mulia, karena dijalani dalam kerendahan hati dan kesadaran, bahwa kekeliruan atau kesalahan dapat diperbaiki melalui maaf, pengampunan dan pertobatan. Di hadapan Allah yang Maha Kuasa, kita adalah orang-orang yang hanya memerlukan kebutuhan hidup yang cukup, karena kita bukan ditentukan untuk menjadi kaya atau miskin, demikian dalam kitab Amsal
Hidup sederhana itu sebagai kekuatan, karena ketergantungan utama kita kepada Tuhan. Kita menikmati hidup ini dengan menjalankan peran dan tanggung jawab masing-masing. Upah dan rezeki selalu ada dan pantas bagi setiap orang yang berhak memilikinya. Hidup ini dibaktikan dan dipersembahkan bagi Tuhan, anak-anak, saudara, dan orang-orang yang dilayani. Kita diberi tanggung jawab dan tugas oleh Tuhan untuk menjalankannya. Dia menjamin untuk menyertai kita dan menghilangkan segala kekhawatiran di dunia ini.
Prinsip hidup sederhana sebagai kekuatan, ialah kita menjalani hidup sesuai dengan kemampuan yang dikaruniakan Allah. Bila kita tidak mampu untuk satu dan lain hal, karena tantangan atau halangan tertentu, Tuhan akan melakukan bagiannya bagi kita. Itu adalah kekuatan dari sebuah kesederhanaan.
“Bapa di Surga, kami selalu berdoa: Datanglah Kerajaan-Mu, supaya dapat membuat hidup kami memiliki kekuatan, yaitu sejalan dengan kemampuan kami dan juga bergantung kepada kekuasaan-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.