Petrikor

“Petrikor harum hujan pertama, selalu memberi kesejukan dan harapan sukacita” -Rio, Scj.

Sejak kemarin sore wilayah Giting dan sekitarnya diguyur hujan pertama setelah sekian bulan kemarau melanda. Sentuhan tanah kering dan air hujan menciptakan aroma harum bumi yang disebut Petrikor. Aroma khas dan menyegarkan yang tercium saat hujan pertama jatuh di atas tanah kering. Harum alamiah yang menenangkan, menyejukkan, dan membawa harapan kesegaran baru bagi bumi dan segala isinya.

Harum yang menenangkan dan menyegarkan. Perpaduan antara kekeringan dan kesejukan air hujan. Kebijaksanaan alam yang mengajarkan kita. Tidak pernah Tuhan membiarkan hidup kita kering dan tandus. Kesejukan yang menyegarkan segera Tuhan berikan pada waktu yang tepat. Yakinlah kekeringan dan tandusnya hidup kita segera Tuhan pulihkan.

Harum yang memberi kehidupan. Bukan hanya kesegaran, tapi kehidupan baru dimulai. Benih yang kering seolah mati itu mulai bertumbuh, rumput dan pohon yang layu mulai segar kembali. Hawa yang panas menjadi dingin dan sejuk. Itulah berkat dan anugerah Tuhan. Besar atau kecil, berlimpah atau sedikit berkat Tuhan dari sudut pandang kita tetap selalu memberi aroma kehidupan.

Harum harapan, itulah Petrikor tidak hanya sekali hujan diturunkan, tapi berkali-kali. Bukan hanya Petrikor harum hujan pertama, tapi harapan baru dimulai. Begitulah hidup saat Tuhan sudah turun tangan; harapan itu tumbuh, berakar, dan menghasilkan buah.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj