Hidup yang Penuh Sesak

Seorang remaja sedang mengobrol dengan teman-temannya dalam group Whatsapp. Pembicaraan berkembang menjadi ramai. Ia merasa arah pembicaraan sudah kabur, juga kenyataan, bahwa masing-masing dari mereka tidak saling memberi kesempatan, bahkan tidak saling mengerti. Ia memutuskan untuk ke luar dari group. Ia menulis ini pada saat hendak ke luar: “Hidup kita sudah penuh sesak!”

Pandangan remaja itu, bahwa hidup ini penuh sesak adalah benar. Penuh dengan kerumunan orang dalam konteks apa pun, sehingga ada orang merasa takut dengan itu lalu ingin menghindari kerumunan. Hidup kita juga penuh dengan pendapat, opini, spekulasi, bahkan kebohongan dan fitnah. Dalam Kitab Amsal, dunia penuh dengan pengaruh jahat yang membawa kita ke dalam dosa, dan pada saat yang sama kekuatan kebenaran dan kebaikan juga menuntut kita untuk menolak pengaruh jahat itu.

Yesus juga berada di tengah orang banyak. Ibu dan saudara-saudara-Nya berusaha menemukan Dia, tapi tidak bisa sehingga mereka berada di luar.

Seorang teman bercerita, ia mengalami banyak hal yang dipikirkan sampai merasa sesak. Ia bukan sekadar bingung dan menjadi bodoh, melainkan ia merasa berada di luar dirinya sendiri untuk mengontrol dan mengatur keadaan supaya rapi dan terorganisir. Ia merasa gagal dan menyerah dengan keadaan itu.

Keadaan kita yang penuh sesak bisa menjadi hambatan, bisa juga kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan. Karena kesibukan kerja dan pemenuhan kebutuhan hidup amat dipentingkan. Jadwal yang padat dan segala urusan membuat kita lelah sepanjang hari. Konsentrasi seperti itu mengakibatkan kita tidak menemukan kesempatan untuk berjumpa Tuhan.

Di situasi yang lain, sebagian orang terpesona mengagumi sesamanya menikmati kedekatan dan sukacita bersama Tuhan. Mereka melihat orang beramai-ramai datang berjumpa dengan Tuhan melalui aneka kegiatan rohani. Mereka suka berada di luar dan menjadi penonton. Karena merasa minder atau takut, jika ingin masuk menjadi bagian dalam kerumunan di sekeliling Tuhan.

Kiranya hidup yang penuh sesak ini dimaknai secara tepat, yaitu agar kita termasuk orang-orang yang berkerumun dan berkumpul untuk menikmati kehadiran Tuhan dalam hidup keharian.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah kami selalu sehati dengan-Mu untuk dapat menerima sabda yang Engkau wartakan, dan menghidupi sabda itu secara benar dalam hidup kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)