Refleksi Filosofis:Misteri Sebuah Kesetiaan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Fidelitas est Liberitas quae Perseverat”
(Kesetiaan adalah Kebebasan yang Bertahan)
Di zaman modern ini, sikap ‘kesetiaan’ itu dianggap sebagai sesuatu yang absurd alias tidak masuk di akal sehat manusia.
- Kesetiaan itu bukan sekadar Tidak Berpaling, tapi Soal Sikap Konsisten untuk Memandang ke Arah yang Sama
Dalam konteks ini, kita sering keliru mendefinisikan makna kesetiaan sebagai ‘sikap tidak pernah goyah dan tidak tergoda.’ Tapi hal itu bukanlah kesetiaan, melainkan sesungguhnya, itu hanyalah ibarat seonggok batu padas.
Kesetiaan itu adalah ‘Fidelitas’ dari kata Fides (Latin), yang berarti ‘perjanjian atau ikatan.’
Sekali lagi kesetiaan itu bukanlah soal perasaan (emosi) semata, melainkan sebuah keputusan untuk memperpanjang perjanjian, bahkan di saat perasaan kita mulai menyurut.
“Aku mencintaimu hari ini.” Ya, inilah sebuah ungkapan sebagai ekspresi cinta, tapi kesetiaan berbisik, “Aku akan mencintaimu lagi besok, walau aku ternyata sudah tidak ingin lagi.”
Itulah misteri ‘kesetiaan.’ Ia bahkan sangatlah tidak logis (karena sepatutnya ia pun harus ingkari).
Ingatlah, bahwa kesetiaan itu selamanya seperti sikap Bunda Maria yang masih rela untuk berdiri di bawah salib, meskipun Putranya itu sudah wafat. (Hal ini justru didorong oleh keutuhan jiwanya yang sudah telanjur menjadi satu rumah dengan dia yang dicintainya).
- Tiga Tingkat Kesetiaan Manusia
“Siapakah Diriku dalam Konteks ini?”
a. Tingkat Pertama: Kesetiaan ‘Cupiditas’. Setia, karena ‘Aku Merasa Beruntung’
Aku setia padamu, karena aku mendapatkan keuntungan darimu. Ya, selama semuanya masih lancar dan menguntungkan, aku akan tetap setia padamu. (Inilah kesetiaan model kontrak / habis masa sewa, maka habislah setianya). Ya, inilah kesetiaan milik dunia ini.
b. Tingkat Kedua: Kesetiaan Integritas. Setia, karena ‘Prinsip’
Aku setia, karena aku adalah pribadi yang berprinsip. Aku tidak mau berkhianat.
c. Tingkat Ketiga: Kesetiaan ‘Caritas’. Setia, karena Telah ‘Menjadi Rahim’
Inilah model misteri keabadian yang sejati. Aku bersikap setia, bukan karena engkau baik, melainkan karena engkau telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari darahku (Ya, inilah model kesetiaan ‘humus’ tanah pada benih). Bukankah humus tanah itu tak pernah bertanya, apakah benih itu kelak akan mekar dan jadi setangkai mawar terindah? (Ya, hal itu sudah jadi kodratnya, karena mereka sudah serahim). Maka, ia tidak butuh lagi aneka alasan apa pun.
- Mengapa Kesetiaan adalah Bentuk Tertinggi dari Kebebasan?
Perlu diingat, bahwa dunia modern berprinsip: ‘setia itu adalah sebuah penjara’. Mengapa demikian? Ya, karena ia sudah tidak bebas untuk berganti-ganti kapan saja.
Marilah Kita Merenungkan!
- Apakah seekor anjing liar yang setiap pagi berganti-ganti ke tempat sampah, apakah dia telah bebas? Tidak, anjing itu justru telah diperbudak oleh perut laparnya. Sehingga ia harus terus mencari dan mencari lagi.
- Tengoklah pada sebatang pohon belimbing tua yang telah berusia 80 tahun. Ia ternyata tetap kokoh, terus berbuah lebat dan diincar oleh banyak Ibu dapur. Ya, karena ia tetap setia pada satu titik di sepanjang hidupnya.
- Bukankah sesosok pribadi yang tidak setia biasanya akan bersikap dangkal, karena ia telah berpindah-pindah?
Kini kita temukan sebuah jawaban final, bahwa hanya pribadi yang setialah yang sanggup mengenal ‘kedalaman’ hidup.
- Penutup: Kesetiaan itu Sunyi
Sesungguhnya, bahwa kesetiaan itu yang paling misterius bukanlah kesetiaan pada manusia yang sempurna. Melainlan ia rela menjadi sebingkai cermin bening, bahkan di saat tidak seorang pun mau bercermin lagi kepadanya.
Harapan padamu:
- Tetaplah setia, kala dunia pun ingkar kepadamu.
- Tetaplah berdoa, di saat langit pun tak sudi membiru lagi alias tertutup bagimu.
“Esto Fidelis usque ad Mortem”
(Jadilah Setia Sampai Akhir)
Kediri, 21 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.