Dari Rahim Bencana Alam

Mosaik Serpihan Kelana -51
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Bumi berguncang dan ada tanah retak bergeser
Gunung api muntahkan lahar dan banjir api
abu panas menyembur ke angkasa
Angin puting beliung menyapu pemukiman dan padang, hutan belantara
Panas terik menikam tanah berdebu dan retak kering gersang
Banjir dan longsor melanda merenggut korban harta dan nyawa
Ombak menerjang dan terjadi tsunami
Kita manusia menyebut bencana alam
Tetapi…
apakah bahasa jagat semesta juga bencana
Apa makna sebenarnya bencana sesungguhnya?

Dari rahim alam jagat semesta
ada aneka kejadian tak mampu dihalau ilmu dan teknologi manusia
dan selalu dicap sebagai bencana dengan kemiskinan kata bahasa manusia
Harusnya ada tanya yang coba menggugat nalar
Mengapa kehadiran manusia tidak disebut bencana alam
Apakah menguras sumber daya alam untuk tambang bukan bencana
Bagaimana dengan polusi udara dan air oleh aneka industri dan beragam kebutuhan zaman itu bukan bencana
Adakah penggundulan jutaan hektar hutan untuk perkebunan bukan bencana alam
Bagaimana penghancuran ekosistem dan pemusnahan lingkungan serta habitat margasatwa bukan bencana alam
Mengapa perang yang merusak manusia dan alam tidak disebut bencana alam?

Dari rahim bencana alam
sepertinya ada penegasan posisi manusia di alam jagat semesta
Bahwa manusia hanya sekelumit isi alam yang mutlak tergantung pada jagat ini
Bahwa manusia dan kreasinya adalah fakta bencana alam itu sesungguhnya
Bahwa bahasa manusia sungguh berbeda dengan bahasa jagat semesta
Bahwa kemajuan ilmu dan teknologi kreasi nalar manusia justru hasilkan bencana di alam ini dan mengancam kelangsungan hidup manusia juga
Bahwa manusia bukan apa-apa dan siapa-siapa
di hadapan hukum jagat semesta

Dari rahim dinamika hukum alam semesta
telah lahir dan hidup kita manusia
Kita hanya miniatur kreasi alam semesta
dan faktanya tergantung mutlak pada semesta ini
Kita manusia diingatkan akan fakta siklus inkarnasi diri
Kita lahir hidup mati oleh energi semesta
dengan bahasa kita yang kerdil, miskin papa
Kita sering memaksa keterbatasan diri untuk menyibak semua misteri jagat
padahal hakikatnya tak mampu melawan hukum alam untuk terbebas dari belenggu takdir ruang dan waktu
Apa dan siapakah kita manusia
di dalam maha luasnya jagat semesta raya?