Refleksi Filosofis-Antropologis:
Misteri dan Esensi Hidup Manusia
Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Esensi hidup manusia hanyalah tiga frase: Untuk Dicintai, Mencintai, dan Untuk Disaksikan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
- Misteri: Manusia adalah Makhluk yang Tidak Pernah Selesai
Jika seekor hewan dilahirkan, ia otomatis langsung jadi hewan. Ya, jika seekor kucing lahir, maka anaknya langsung jadi kuncing.
Berbeda dengan manusia. Tatkala seorang anak dilahirkan, ia belum jadi manusia. Dalam konteks ini, para filsuf menyebutnya: Homo Viator artinya Manusia Peziarah. Ketahuilah, bahwa Anda dan saya bukanlah sebagai sebuah patung, melainkan seorang manusia? Ia adalah pahatan yang sedang asyik memahat dirinya sendiri.
Inilah Misteri Pertama:
“Kita adalah tanya yang berjalan.”
- Kita bertanya, “Aku ini siapa?” Padahal penanya itu si ‘aku’ sendiri.
- Kita mencari makna hidup, padahal pencari itu, ya, makna itu sendiri.
Di dalam diri manusia ada jarak dan ada ruang antara aku dan diriku. Karena itu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menertawakan dan menangisi dirinya sendiri juga.
Ruang itulah yang bernama: Kesadaran. Di ruang kesadaran itu, Tuhan berbisik.
- Esensi: Manusia adalah Penjaga Ambang Batas
Esensi manusia bukan terletak di otak besar atau jempolnya. Melainkan esensi manusia berada di posisinya. Kita adalah Makhluk Ambang-Makhluk Perbatasan.
Kita Berdiri Tepat di Persimpangan 4 Jurang
- Antara Hewan dan Malaikat: Ada ‘Cupiditas’ hewan rakus dan ada ‘Caritas’ Malaikat yang ingin memberi.
- Antara Debu dan Roh: Kita dari Humus (debu), tapi kita rindu Surga (Roh). Ya, kaki kita berada di tanah, tapi kepala kita melayang-layang di langit.
- Antara Rahim dan Kematian: Kita turun dari rahim Ibu Manusia, tapi berjalan menuju rahim Ibu Bumi.
- Antara Waktu dan Kekekalan: Kita hidup berdasarkan hitungan detak jam dan kalender, tapi setiap cinta sejati membuat kita ingin berkata, ‘selamanya’.
Camkan! Tugas kita bukanlah memilih salah satu sisi. Melainkan justru menjadi jembatan (penjaga ambang).
“Manunggaling Kawula Lan Gusti” (Jawa).
(Bukan melebur, tapi menjaga agar keduanya bertemu di dalam diri kita).
- Jawaban yang paling jujur: Hidup itu bukan soal Memecahkan, tapi Soal Mendiami.
Misteri hidup itu seperti musik. Anda jangan terobsesi ingin memecahkan misteri hidup, seperti soal matematika. Anda dan saya justru tidak memecahkan musik, tapi mendiaminya.
Ya, esensi hidup manusia hanya terdiri dari 3 buah frase, “Untuk Dicintai, Mencintai, dan Untuk Disaksikan.”
- (1) Kita diciptakan dari Caritas: kita adalah buah kerinduan Allah. (Kita, sudah ada).
- (2) Dipanggil untuk Caritas: Anda menjadi rahim bagi orang lain dan bukan untuk mengumpulkan harta.
- (3) Berpulang sebagai Testis: (kesaksian), kita akan ditanya, “Cermin bening apa yang kau tinggalkan? Kesaksian kasih apa yang kau pantulkan.
Penutup
“Sum, ergo amatur”
(Aku ada, maka aku dicintai).
Kediri, 19 September 2026