Trilogi Hidup

Oase ini menjadi pengingat yang meneduhkan (bagaikan sebuah oase di padang gurun kehidupan), bahwa mencintai dan beriman sering kali berarti merangkul misteri kehidupan dengan keheningan, ketabahan, dan kasih yang tulus.
- Pertama: Cinta yang Siap Terluka
- Kedua: Iman dan Kesetiaan
- Ketiga: Meneladan ‘Fiat’ Maria
Cinta yang Siap Terluka
Mencintai Allah dan sesama manusia itu menuntut kerentanan (vulnerability). Ketika memilih untuk mencintai, kita juga memberikan ruang untuk kemungkinan terluka.
Kekuatan sejati manusia itu tidak diukur saat keadaan sedang ideal atau menyenangkan, melainkan saat ia memilih untuk bertahan tanpa menuntut jawaban atau alasan instan atas penderitaannya.
Iman dan Kesetiaan
Iman bukan bebas dari air mata. Ia tidak menjanjikan hidup yang selalu mulus atau bebas dari kesedihan.
Kekuatan iman itu justru teruji, ketika kita mampu tetap melangkah maju, meski situasi di sekitar terasa gelap, membingungkan, atau menyakitkan.
Meneladani ‘Fiat’ Maria
Maria mengajarkan sikap iman yang radikal : percaya tanpa harus mengerti. Ia tidak selalu memahami seluruh rencana dan jalan Tuhan (misalnya saat mendampingi putera-Nya di bawah kaki salib). Tapi ia memilih untuk tetap percaya.
Saat hidup terasa retak oleh penderitaan, Maria fokus pada kasih, bukan pertanyaan. Refleksi ini mengajak kita mengubah fokus pertanyaan kita. Bukan lagi meratap, “Mengapa ini terjadi padaku?” Melainkan bertanya pada diri sendiri: “Apakah kasih di dalam hatiku masih cukup besar untuk membuatku bertahan dan terus mencintai?”
Berkah Dalem,
Jlitheng
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.