Sederhana

“Hidup itu sederhana, kenapa dibikin kompleks.” -Rio, Scj

Suatu kali saat melihat kebun kopi seorang umat di Stasi. Saking bagus dan buahnya yang mantab, saya spontan bertanya, “Pak, kopi sebagus ini gimana cara merawatnya, dan dikasih apa?”

“Saya tidak pernah maksa mereka bisa tumbuh, saya cuma nyingkirin apa aja yang membuat mereka susah untuk bertumbuh, satu lagi kasih pupuk dan sering dijenguk,” jawabnya sederhana.

Jawaban dan analogi yang bagus sekali untuk melihat hidup kita agar tidak perlu membandingkan. Jika sering membandingkan hidup kita dengan orang lain, ujung-ujungnya iri hati. Yang penting itu adalah singkirkan yang perlu dibuang agar tidak menghambat bertumbuh dan berkembang.

Hidup ini sederhana, tidak perlu memaksakan yang memang tidak bisa digapai. Dijalani prosesnya, tekun dalam doa, dan berusaha. Rezeki itu tidak lari ke mana kok. Tidak perlu dipaksa untuk bisa mekar hari ini, tidak perlu semuanya cepat dan instan. Tapi isi dan maknai hidup ini dengan sukacita serta syukur.

Berilah waktu untuk mengunjungi diri, kadang perlu diberi apresiasi, dan perlu evaluasi diri untuk memperbaiki yang kurang. Fokus untuk pertumbuhan; tidak sibuk memberi ruang pada yang merusak. Jika penghambatnya sudah hilang dan nutrisinya cukup, hidup ini akan berakar, bertumbuh, dan berbuah.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj