Refleksi Biologis-Antropologis:
Antara Rahim Ibu Manusia dan Ibu Bumi

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Mater et Materia”
Ibu dan Tanah Satu Asal. Ya, dari Ibu, oleh Ibu, dan Kembali kepada Ibu”
(Prinsip Didaktika Hidup Sejati)

  1. Rahim Pertama: Uterus-sang Microcosmos

Rahim seorang Ibu adalah ‘ekosistem pertama’ dan (1) secara biologis bukanlah sekadar sebagai organ tubuh manusia. (2) Secara antropologis, disebut ‘Ruang Antara Limes.’

Ya, sejatinya ia bukanlah sekadar ‘aku’ dan bukan ‘dia.’ Ia adalah ‘kita’ sebelum kita mengenal kata ‘kita.’ Di dalamnya terdapat 2 detak jantung tubuh. Juga darah Ibu bukanlah darah anak, tapi mereka bertukar nafas, bertukar makan, dan cerita.

Bilologi modern menemukan: Mikrokimerisme. Sel si Anak tertinggal di dalam tubuh Ibu seumur hidupnya: ya, di jantungnya, otaknya, dan bahkan pada lukanya.

Ibu kita secara biologis tidak pernah benar-benar telah melahirkan sepenuhnya, karena sebagian Anak tetap tinggal di rahim jiwanya. Itulah gua suci, gua pertapaan pertama manusia.

Fungsi rahim Ibu bukanlah memiliki, melainkan menjadi rumah yang berani merobek diri untuk melepaskan.

  1. Rumah Kedua: Humus – sang Macrokosmos
  • Humus – humus – homo – humanis (Latin) (Hanya terdiri dari 1 akar kata).
  • Humus itu adalah tanah yang subur.
  • Homo itu artinya manusia.
  • Humanus itu: yang berhati manusiawi/berperikemanusiaan. Artinya, secara etimologis manusia adalah Anak yang diambil dari humus. Kita tidak hidup di atas bumi, tapi hidup dari bumi.

Jika Rahim Ibu Manusia memberi kita darah untuk hidup 9 bulan, maka Ibu Bumi justru memberi kita darah untuk 90 tahun.

Ya, bukankah (1) air ketuban itu adalah hujan, (2) plasenta itu adalah hutan, (3) dan tali pusar itu adalah sungai-sungai?

“Semua budaya kuno memanggil Bumi dengan sebutan Ibu, Ina, Ine, Pertiwi, Gaia, dan Pachamana. Hal itu bukan karena kedengarannya indah dan puitis, melainkan karena mereka mengalaminya: Bumi tidak kita miliki, Bumi melahirkan kita,” demikian pandangan antropolog Mircea Eliade.

  1. Luka yang Sama: Ketika Dua Rahim itu Disakiti

Di sinilah titik pergolakan manusia hingga menjadi pedih, ialah kala Rahim Ibu Manusia itu keracunan. Maka, bakal bayi pun akan cacat dan keguguran.

Apa yang terjadi pada Ibu Bumi, jika keracunan? Ya, akan sama saja nasibnya.

Biologi menyebutnya, Bioakumulasi, racun yang kita buang ke Ibu Bumi akan kembali ke plasenta Ibu Manusia. Sama halnya dengan Mikroplastik yang kita buang ke laut, kini bahkan ditemukan di plasenta bayi manusia tahun 2023.

Kita tidak sedang merusak kedua tempat yang berbeda, tapi kita sedang merusak satu rahim yang sama yang memanjang.

Antropologi menyebutnya: kita sedang menderita Amnesia Rahim. (Kita telah mengubah mentalitas dari: “Menghuni Rahim” menjadi “Menguasai Rahim.”

Ya, akhirnya kita ini lahir dari rahim yang berdarah, rahim yang berdebu.

“Mater et Materia”
Ibu dan Tanah itu satu asal.

Kediri, 18 September 2026