Refleksi Filosofis:
Sekeping Cermin Bening

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Nosce te Ipsum”
(Kenalilah Dirimu)

Di saat Anda masih bayi, dan Anda meronta-ronta dalam dekapan Bunda, bola matamu nan mungil itu terpana, ketika menatap pada sekeping cermin di pendopo rumah orangtuamu.

Ingatlah, bahwa cermin itu adalah warisan dari Kakekmu, dan ia sudah berada di situ. Ketika Anda menangis, Ibumu mendekatkan wajah mungilmu ke depan cermin itu.

  1. Cermin itu tidak pernah berbohong: kitalah yang memalingkan wajah

Filosofi: “Speculum sine macula”
(Cermin tanpa noda)

Bukankah cermin itu hanya bertugas memantulkan sesuatu apa adanya? Dengan lantang ia pun berkata:

“He, di sudut matamu, ada setitik debu.”

“He, Anda tampak sangat lelah.”
(Hal ini terjadi bukan karena cermin itu retak, melainkan terjadi karena keberanian sikap Anda untuk menatapnya).

Mari kita bersikap jujur!

  • Bukankah Anda lebih menyukai cermin instagram yang pandai memoles?
  • Bukankah pula Anda lebih tertarik untuk menatap pada cermin pujian? Ataukah cermin pembenaran diri?

Padahal di sudut ruangan hening itu, ada sekeping cermin yang diam-diam menunggumu.

  1. Debu itu bernama: Luka dan Topeng

Dengan seiring berjalannya sang waktu, tampak cermin bening itu berdebu.

Bebutiran debu itu bernama:

  • Amor Fati (cinta pada nasib): itulah luka masa lalu yang Anda duga sebagai indentitasmu.
  • Personalitas (jati diri): itulah seraut topeng yang Anda kenakan agar dapat disukai dan diterima.
  • Cupiditus (keserakahan/nafsu memiliki): yang telah mendorong Anda agar tak pernah merasa kenyang.

Lihatlah pada kualitas hidupmu? Apakah buram dan kotor? Jika memang demikian, segeralah Anda melapnya.

Anda melap menggunakan apa? Ya, dengan sikap jujur, juga dengan butiran air mata tulus.

  1. Di dalam cermin itu, bukan hanya wajah Anda yang terlihat

Inilah sebuah misteri yang paling dalam!

Ternyata tampak di sana ada sekeping wajah lain di balik bahumu. Ya, itulah sekeping wajah yang selalu menopang hidupmu, juga menguatkan langkah goyahmu. Itulah “Imago Dei” sang “Citra Allah” (Dia juga ternyata berada di sana).

“Engkau lebih dekat kepadaku daripada aku kepada diriku sendiri.”
(Santo Agustinus).

“Siapakah Aku,” kala semua topengku dilepaskan?
(Quis sum ego?).

Inilah “Speculum Christi” (Cermin Kristus), yang dititipkan di dalam hati Anda!

Kediri, 17 September 2026