Suara dari Pinggir Pelosok Negeri
Mosaik Serpihan Kelana -46
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Fajar menyingsing di ufuk timur negeri membawa air mata dan darah
Cahaya pagi di tanah Papua buram kelabu dibalut kabut galau dan asap senjata
Hutan-hutan digunduli demi aneka proyek tambang dan perkebunan
Babi liar dan margasatwa kehilangan habitat
Burung-burung terbang merana mencari sangkarnya
Penduduknya tergusur seperti pengemis gelandangan
oleh pemilik kuasa, modal dan senjata
Padahal mereka pewaris turun temurun sejak para leluhur
Suara mereka adalah tanpa suara
beruntung kalau media sosial bisa mengabarkannya
Tetapi…
Entah siapa yang bakal peduli
Entah sampai kapan lara merana di tengah kelimpahan alamnya yang terus dikuras
Sinar mentari melintas khatulistiwa setiap hari
Di Maluku dan Nusa Tenggara ombak harapan terus menghempas pasir pantai
Ikan dan udang semakin jauh dari nelayan miskin
karena alat canggih sudah terbiasa menguasai laut
dan aneka hasil terus dirampok para pemodal
Banyak tambang senyap beraksi menyisir berbagai wilayah
Sulawesi, Borneo dan Sumatera semakin terluka dan telanjang
karena hutan terus dibabat dan tambang semakin mengganas
dengan aneka alasan bisnis dan pembangunan
Kepada rakyat yang menggugat menjerit nasibnya
biasanya diamankan karena dianggap menghambat pembangunan bangsa
Lalu api menyala membakar aneka masalah
serta asap menutup mata dan nafas
agar penduduk lokal diam tak bersuara
Senja dan malam kelam di tanah air
dalam tanya tak bertepi nasib rakyat yang getir
Para buruh upah tak menentu dan semakin banyak yang kehilangan pekerjaan
Harga sembako dan wajah pasar terasa mencekam
Para mahasiswa dan buruh turun ke jalanan terus berdemo
namun tuntutan aneka persoalan biasanya selesai dengan janji dan berita di sosial media
Sedangkan…
parade korupsi pejabat terus lahir semarak subur
karena hukum pun sudah dikorupsi oleh politisi busuk, pejabat koruptor dan pebisnis rakus tamak
Para penegak hukum malahan tertangkap melawan hukum dan menjadi koruptor
Para wakil rakyat yang terhormat malahan diam atau hanya tampil di media
tetapi ada yang juga koruptor
Maka…
terik mentari semakin panas dan gulita malam sedemikian pekat
Ketika bencana alam melanda negeri
Lara derita rakyat yang menjadi korban semakin mencekam
Gempa dasyat yang terus mengguncang tanah air
spertinya hanya menjadi ancaman bagi rakyat jelata
Gunung api yang muntahkan bara dan debu panas
tak ada yang mampu menahan dan membatalkan
Sayup bertanya rakyat jelata di seluruh negeri menjadi lagu balada misteri
karena kejahatan manusia disembunyikan dengan alasan adanya bencana alam
Bencana bagi para korban yang tak berdaya
sering menjadi pesta pora bagi yang mempunyai kuasa, modal dan sarana publikasi
Ada kesempatan korupsi dan menjadi ajang promosi politik
Ada peluang menghilangkan kewajiban perusahaan karena alasan bencana alam
Dan
suara rakyat untuk menagih hak nasibnya dari negara semakin sirna diabaikan
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.