Penderitaan dan Ketaatan

Situasi penderitaan sering kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Entah beriman atau tidak, kita akan mengalami situasi hidup seperti itu. Orang beriman tidak akan membiarkan kerohaniannya terganggu, karena mengalami penderitaan dalam hidupnya. Ia dapat bersukacita dan tersenyum saat hidupnya nyaman atau bahagia. Ia juga dapat meratap dan menangis saat hidupnya mengalami kesusahan dan penderitaan. Tapi semua situasi itu ia jalani dengan iman. Dalam kebahagiaannya, ia bersyukur, dan dalam ratapannya, ia berdoa. Dinamika hidup seperti ini telah dilakukan oleh Yesus pada saat Ia hidup bersama para murid-Nya. Yesus telah mengajarkan kepada para murid tentang sebuah ketaatan yang paripurna, sekalipun mengalami situasi hidup yang berat.
Puncak dari semua pengorbanan Yesus adalah penyaliban di Bukit Golgota. Maria berdukacita dan menderita pada waktu itu. Kita dapat membayangkan, betapa hancur hati seorang Ibu yang menyaksikan Anak Tunggalnya, yang dikandung dan dibesarkannya itu mengalami penderitaan yang begitu hebat. Tapi dalam situasi ini, Yesus memperlihatkan kepada kita semua kasih yang tidak terperikan. Yesus melupakan penderitaan-Nya dan memerhatikan penderitaan Ibu-Nya dari atas kayu salib. Yesus menunjukkan kasih Allah yang tidak terbatas kepada kita.
Dukacita dan penderitaan Maria mengingatkan kita untuk memandang Dia yang menderita di salib dan berserah diri kepada-Nya yang telah mengalahkan penderitaan dengan kemenangan yang mulia. Bersama Dia yang telah mengubah maut menjadi hidup, kita dapat menerima situasi sesulit apa pun dalam iman.
Mampukah kita meneladan ketaatan Yesus, dan berserah diri seperti Bunda Maria, ketika mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidup?
Ya, Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk melihat penderitaan yang kami alami sebagai jalan menuju kemuliaan yang Engkau janjikan. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.