Perbuatan Kasih sebagai Gaya Hidup

“Siap tidak siap itu harus disiapkan. Karena cepat atau lambat, kita harus kembali kepada Tuhan.” -Mas Redjo
Api sadar diri itu tidak cukup, jika sekadar menyala. Cepat atau lambat api itu akan meredup, dan padam. Nyala api itu harus dijaga terangnya untuk menuntun kita pulang ke rumah Allah.
“Dari Allah kembali kepada Allah,” adalah kredo kasih dan fondasi umat beriman agar senantiasa sadar diri untuk tidak terperangkap dalam pusaran gengsi dan validasi yang menyesatkan jiwa.
Cobalah berefleksi. Sejatinya, apa yang kita cari di dunia ini?
Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah; imago dei (Kej 1: 26-27). Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8) agar kita menjadi saluran berkat-Nya.
Saya terinspirasi dan termotivasi dengan kisah ‘Gadis Bijaksana’ yang menjadi mempelai Kristus agar saya menggunakan bakat dan talenta yang dianugerahkan itu bagi kemuliaan-Nya (Mat 25: 1-23).
Hidup yang biasa-biasa saja itu tidak cukup, tapi hidup yang diisi dengan perbuatan kasih itu luar biasa, dan anugerah-Nya.
Gadis bijaksana itu mengajarkan pada Anda, saya, dan kita semua. Bahwa sampai kedatangan Tuhan, kita dituntut kesiapan hati untuk taat dan setia kepada-Nya dengan mengisi hidup ini dengan perbuatan kasih (minyak untuk menyalakan api jiwa).
Sungguh anugerah nan indah, ketika api jiwa kita bernyala terang untuk menyambut kedatangan mempelai Kristus!
Alleluya!
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.