Homo Viator Mundi

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Kami diciptakan untuk-Mu, ya, Tuhan dan hati kami gelisah sampai beristirahat pada-Mu.”
(Santo Agustinus)

“Urip Iku Mung Numpang Ngombe”
“Hidup itu ibarat numpang minum kopi”
(Bahasa Jawa)

Ya, Tuhan, kini kami sungguh sadar, bahwa kami diciptakan bukanlah untuk suatu keabadian, melainkan untuk suatu kesementaraan di bumi ini. Kami hanya numpang lewat, karena kami bukanlah sebagai pemiliknya.

  1. Jembatan antara Kematian dan Kehidupan
    (Di sinilah letaknya titik sentral dari hidup beriman kita)

Jika kita ini sebagai “’Viator’ maka itu berarti:

a. Kehidupan ini bukanlah sebagai sebuah tujuan akhir

Ketahuilah, bahwa samudra itu maha luas, dalam, dan sangat bergelora. Secoret pelangi pun kala tampak di hari ini, tapi keesokan hari ia sudah sirna. Maka, kepada kita diajarkan, agar janganlah mau menggenggam kehidupan ini.

  1. Kematian itu bukanlah akhir perjalanan

Ketahuilah, bahwa kematian itu bukanlah ‘tamat’. Melainkan itu ibaratnya daun ‘pintu’ (Sekadar pindah penginapan).

  1. Penderitaan itu ada artinya

Seorang peziarah itu pasti kelelahan, letih, kehausan, lecet-lecet tumitnya, dan bisa saja ia kesasar. Ya, itu sebagai suatu keadaan yang normal bagi seorang peziarah.

  1. Refleksi Iman

“Kami diciptakan untuk-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat pada-Mu.”
(Santo Agustinus)

Homo Viator Mundi
(Manusia Pengembara di Bumi)

  • Di dunia ini kita justru dipanggil demi ‘mencumbui’ samudra orang lain. Untuk jadi pelangi, maka lahirlah cinta.
  • Menuju dunia lain: ya, kita berjalan pulang, kita kembali ke rumah Bapa.

Bagaimana Penerapan di dalam Hidup Nyata?

  • Janganlah terikat, karena semuanya itu hanyalah bersifat sementara: (harta, pangkat, gelar, jabatan), itulah ibarat rumah penginapanmu.
  • Janganlah putus asa, karena ‘luka’ kita hanya di saat berada di jalan. Ketika tiba di rumah, luka kita pun akan sembuh.
  • Hidup penuh makna: ya, langkah peziarah itu sangatlah berharga.

Intisarinya, bahwa kita ini hidup di antara dua buah tepi:

  • Tepi kehidupan: kita sedang menanam, mengasihi, dan membangun.
  • Tepi kematian: kita harus melepaskan, dan segera pulang.

Di tengah-tengahnya, berdirilah kita selaku sang Homo Viator.

Kediri, 13 September 2026