Kebaikan ke luar dari Hati yang Baik

Seorang bocah berusia enam tahun dapat menentukan pilihannya terhadap pemberian Bapak dan Ibunya.
Suatu hari, kedua orangtuanya memberikan dia oleh-oleh. Dengan tersenyum gembira ia menerima hadiah itu dari Ibunya. Sebaliknya terjadi hal yang berbeda, ketika datang kepada Bapaknya. Ia tersenyum, tapi tidak mengambil hadiah itu dari Bapaknya.
Ketika ditanya alasannya tidak mengambil oleh-oleh itu, dengan polos ia menjawab, bahwa Bapak sering marah-marah, sehingga baginya oleh-oleh itu pasti tidak baik baginya. Ia tentu menganggap, bahwa yang diperbuat Bapaknya adalah buah yang tidak baik seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Tanda buah yang baik ialah, jika seorang murid Kristus itu mengeluarkan yang baik dari hatinya. Yesus menggambarkan, dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri orang tidak memetik buah anggur. Kita dapat memahaminya, bahwa orang jahat itu mengeluarkan kata-kata dan tindakannya yang jahat. Sebaliknya, orang baik mengeluarkan dari dirinya kata-kata dan tindakan yang baik.
Kita mengambil satu contoh kasus dalam hidup keseharian. Orang-orang menggunakan media sosial untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya yang menyebarkan kasih, menjalin persaudaraan, memperkuat persekutuan dan berbagi pengetahuan. Sebagian orang memanfaatkannya untuk membatu pekerjaan dan menjalankan bisnis. Tapi sebagian orang lain justru menggunakan untuk hal-hal destruktif, seperti fitnah, provokasi kekerasan, menyatakan marah dan benci, menyebarkan kebohongan, korupsi, dan narkoba.
Kita dapat membedakan secara umum dua kelompok orang melalui penggunaan media sosial ini, yaitu mereka yang menyimpan amarah, benci, iri dan dengki dalam hati sehingga yang terungkap dalam komunikasi media adalah semua hal yang jahat. Ini sungguh mengerikan dan meneror. Kelompok yang lain adalah mereka yang cinta damai dan mau hidup dalam cinta kasih. Mereka menginspirasi optimisme agar hidup bersama kita menjadi lebih baik.
Santo Paulus memberikan satu usulan untuk menghadapi persoalan ini, yaitu supaya mereka yang berbuah baik, tetap memberikan contoh-contoh yang baik. Mereka perlu menghindari kemalasan, kebosanan dan kegagalan dalam memberikan pengaruh yang baik, termasuk dalam penggunaan media sosial. Semakin banyak pengaruh yang baik, kian baik pula hidup ini.
“Ya, Allah yang Maha Baik, penuhilah kami dengan rahmat dan karunia-Mu agar kami senantiasa menghasilkan buah-buah yang baik melalui kata dan tindakan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.