Tujuan Membenarkan Cara

Pelatihan kepemimpinan bagi orang muda Katolik pernah diadakan di daerah pedesaan. Latihannya, ialah melakukan perjalanan ke puncak bukit yang berjarak sekitar 4 kilometer. Peserta diwajibkan berjalan kaki dari tengah kampung dengan memilih berbagai jalan alternatif. Yang lebih dulu mencapai puncak bukit akan diberi hadiah.

Ternyata kegiatan pelatihan ini menjadi kurang berkesan baik, karena beberapa peserta berbuat curang. Mereka menyewa ojek sepeda motor agar cepat mencapai puncak bukit. Mereka menyatakan diri sebagai pemenang. Mereka berpikir, bahwa kecurangannya tidak diketahui. Ternyata ada saksi mata yang mengklaim, bahwa mereka bukanlah pemenangnya. Para pemenang sesungguhnya ialah mereka yang berjalan kaki, yang mencapai tujuan sebagai nomor satu, dua, tiga, dan seterusnya.

Para pemenang yang curang itu adalah mereka yang menghalalkan cara demi mencapai tujuan. Padahal menurut aturan pelatihan, untuk mencapai tujuan itu caranya sudah ditentukan. Para peserta seharusnya patuh dengan aturan itu, yaitu berjalan kaki sampai ke puncak bukit yang sudah disepakati. Di sini berlaku prinsip yang sudah dikenal bersama, yaitu tujuan mensyaratkan cara yang benar dan yang diminta, atau cara yang sesuai untuk mencapai tujuan.

Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa patuh aturan yang disepakati bersama, yaitu cara yang ditetapkan untuk mencapai tujuan yang benar. Tuhan Yesus menegaskan, bahwa cara orang buta membimbing orang buta itu tidak mungkin akan mencapai tujuan. Seorang murid mencapai tujuan dengan tidak mengikuti atau meneladani Gurunya adalah cara yang tidak benar. Sikap munafik dalam menyelesaikan masalah dengan menyalahkan orang lain dan tanpa mengoreksi diri sendiri, adalah sikap yang tidak benar.

Santo Paulus mengajarkan kita melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, bahwa untuk melakukan kehendak Allah memang harus mengikut jalan-Nya, yaitu jalan Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak bisa mengarang atau memaksakan kehendak sendiri. Paulus menuntaskan perutusan dari Tuhan dengan memberitakan Injil, sampai akhir hidupnya. Kita hendaknya menuntaskan tugas dan panggilan kita di dunia ini dengan mengikuti jalannya Tuhan Yesus Kristus. “Barang siapa yang tidak memakai jalan atau cara yang dikehendaki Tuhan, ia akan tersesat dan tidak sampai tujuan.”

“Ya, Allah yang Maha Murah, kuatkanlah kami agar tidak tersesat di jalan hidup kami. Tapi selalu mengikuti jalan-Mu yang pasti untuk mencapai keselamatan. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)