Kebebasan Sejati itu untuk Mengasihi

“Kebebasan sejati bukanlah bebas melakukan apa yang diinginkan, melainkan bebas untuk mengasihi seperti Bapa mengasihi.”
Allah yang Maha Rahim, Yesus memberikan salah satu perintah yang paling sulit dalam Injil: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, berkatilah orang yang mengutuk kamu, dan berdoalah bagi mereka yang mencaci kamu.”
Bapa, hal itu sungguh tidak mudah.
Bukankah aku ingin bebas membela diri dan membalas? Bebas memperlakukan orang lain, sebagaimana mereka memperlakukanku?
Yesus menunjukkan, bahwa ada kebebasan yang jauh lebih dalam.
Santo Paulus mengingatkan, bahwa pengetahuan dapat membuat kami sombong, sebaliknya kasih itu membangun. Bahkan sesuatu yang sebenarnya boleh kulakukan bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kebebasanku ternyata bukan terutama tentang apa yang boleh kulakukan, tapi tentang seberapa jauh aku rela mengasihi.
Pemazmur mengingatkan: “Engkau mengenal aku, ya Tuhan. Engkau menyelidiki dan mengenal hatiku. Engkau tahu luka-lukaku, kekecewaanku, dan tahu siapa yang sulit aku ampuni. Engkau tahu semuanya, tapi tetap mengasihiku.
Bapa, ajarlah aku mengasihi bukan berdasarkan perasaanku, tapi berdasarkan kerahiman dan kasih setia-Mu.
Santa Faustina mengalami, betapa sulitnya mengasihi orang yang menyakitinya. Ia belajar, bahwa kasih itu bukan berarti aku tidak pernah merasa terluka, marah, atau kecewa. Melainkan kasih berarti, ketika mengalami pertentangan dan sakit hati, aku tidak kehilangan damai, tapi tetap mendoakan orang yang menyakitiku dan menginginkan kebaikannya (BHF 1628).
Yesus, Engkau mengasihi orang yang menyakitiku, bagaimana mungkin aku menolaknya? Engkau mati untuknya, bagaimana mungkin aku menginginkan keburukannya. Engkau terus mengampuniku, bagaimana mungkin aku menolak menjadi alat kerahiman-Mu?
Bapa, bebaskan aku dari penjara kebencian, dendam, dan keinginan untuk menang. Berilah aku kebebasan untuk mengampuni. Untuk memberkati dan bukan mengutuk. Untuk mendoakan dan bukan menghakimi. Kebebasan untuk mengusahakan keselamatan orang lain dan bukan hanya kepentinganku sendiri. Sebab inilah kebebasan anak-anak-Mu.
Ketika aku belum mampu merasakan kasih itu, bantulah aku memilih untuk mengasihi. Biarlah keputusanku untuk taat kepada-Mu lebih kuat daripada perasaanku. Perlahan-lahan, biarlah kasih-Mu mengubah apa yang tidak sanggup aku ubah dengan kekuatanku sendiri.
Bapa, bawalah kami kepada kebebasan sejati ini: kebebasan untuk mengasihi seperti Yesus, supaya kami hidup sebagai anak-anak-Mu dan menerima warisan kekal yang Engkau sediakan bagi kami.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.